INDUSTRI
Berita
Akibat merugi, petani garam beralih profesi

BISNIS GARAM

Akibat merugi, petani garam beralih profesi


Telah dibaca sebanyak 2027 kali
Akibat merugi, petani garam beralih profesi

JAKARTA. Lantaran terus merugi, petani garam rela beralih profesi menjadi peternak ikan bandeng. Sejak Mei hingga Agustus 2010, petani garam selalu mengalami gagal panen karena cuaca yang tidak menentu. Hal ini membuat petani garam berhenti mengolah hasil panen sejak September lalu.

Menurut Faisal Baidowi, anggota Presidium Aliansi Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (A2PGRI), tahun ini para petani mengalami kerugian Rp 5 juta per hektare (ha)-Rp 7 juta per ha. Kerugian ini disebabkan petani harus menanggung biaya perbaikan lahan, perbaikan alat-alat produksi, perbaikan alat pengait, serta proses kristalisasi.

Untuk menutup kerugian, beberapa petani terpaksa beralih profesi menjadi peternak bandeng. Sementara beberapa petani lainnya mempertahankan usahanya dengan menyewa lahan. Untuk menyewa lahan, petani harus membayar Rp 8 juta per hektar.

Cuaca yang buruk juga membuat stok garam dalam negeri tahun ini kosong. Dus, kebutuhan garam tahun ini hingga awal tahun 2011 akan ditutup dari produksi dalam negeri dan impor. "Sesuai kebutuhan garam nasional, maka tahun ini kita mengimpor garam sebanyak 1,2 juta ton-1,4 juta ton," ungkap Faisal.

Sekadar catatan, saat ini harga garam di tempat pengumpulan mencapai Rp 850.000 per kilogram (kg)-Rp 950.000 per kg. Para petani garam memprediksi, persiapan produksi garam tahun depan akan dimulai pada bulan April dan Mei.

Editor: Teskontan
Telah dibaca sebanyak 2027 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..