INDUSTRI
Berita
Anggrek tak laris, petani beralih ternak kelinci

PETANI ANGGREK

Anggrek tak laris, petani beralih ternak kelinci


Telah dibaca sebanyak 839 kali
Anggrek tak laris, petani beralih ternak kelinci

JAKARTA. Kondisi petani anggrek di Kota Bandung memprihatinkan. Dari sekitar 200 petani yang tergabung dalam Komunitas Petani Anggrek Indonesia (KPAI) Kota Bandung, kini jumlahnya hanya sekitar 50 petani. Sebagian petani lainnya beralih ke bidang lain.

Ketua KPAI Kota Bandung, Wiwiek Handayani mengatakan, jumlah petani anggerk tahun 2009 mencapai 200 petani. Namun, karena penjualan anggrek turun drastis, sebagian petani beralih menjadi peternak atau petani bunga jenis lainnya.

"Intinya ada masalah dalam penjualan. Paling-paling petani hanya bisa mendapatkan uang dari penjualan anggrek sebesar Rp 500.000 sampai Rp 7 juta per bulan," katanya pada jumpa pers di Hotel Scarlet Bandung, Selasa (8/5).

Karena tidak laku, petani anggrek harus mengeluarkan biaya besar untuk melakukan perawatan agar tanaman tidak rusak. Apalagi sangat jarang anggrek dari Bandung diekspor ke negara lain.

Peneliti Anggrek, Wieny Rizky menambahkan, pihaknya akan melakukan pameran dan seminar anggrek pada 9 sampai 13 Mei ini di Bank Indonesia. Pameran ini digelar karena Singapura lebih gencar dalam pameran anggrek. Padahal Indonesia memiliki sekitar 5.000 spesies anggrek.

"Kami merasa terkalahkan dan tersaingi karena Indonesia memiliki beragam jenis anggrek. Semoga ini bisa memotivasi petani anggrek untuk memproduksi dan meningkatkan kualitas, agar bisa bersaing dengan negara lain," ujarnya.

Menurutnya, peluang anggrek untuk meraih pasar begitu besar. Sehingga bisa dijadikan sebagai suatu industri dan menjadi devisa bagi petani anggrek.

Kabid Bina Usaha Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung, Tono Rusdiantono mengatakan, pihaknya mendukung penuh pameran tersebut. Apalagi anggrek membutuhkan promosi secara terus menerus. (Agung Yulianto/Tribunnews)

Editor: Asnil Bambani Amri
Telah dibaca sebanyak 839 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..