| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.073
  • SUN98,24 0,00%
  • EMAS606.004 0,84%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

API minta regulasi impor tekstil direvisi

Senin, 21 Maret 2016 / 11:01 WIB

API minta regulasi impor tekstil direvisi

JAKARTA. Pelaku industri tekstil kembali menyoroti aktivitas impor tekstil dan produk tekstil ke dalam negeri. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menengarai, banyak aktivitas impor tekstil dan produk tekstil tak sesuai dengan aturan.

Ade Sudrajat Usman, Ketua Umum API bilang, kegiatan impor tekstil yang kini menjadi sorotan mereka adalah, impor tekstil di wilayah kawasan berikat. Menurut Ade, banyak aktivitas impor tekstil di kawasan berikat tersebut telah menyalahi ketentuan.

“Seharusnya impor tekstil itu dilakukan untuk memproduksi produk yang kemudian di ekspor. Yang terjadi, produk yang diimpor tersebut justru dijual di dalam negeri,” kata Ade kepada KONTAN, Minggu (20/3).  Asal tahu saja, kemudahan impor tekstil di kawasan berikat diatur dalam PMK No 176/2013 tentang kemudahan impor tujuan ekspor (KITE).

Dalam program tersebut, pemerintah memperbolehkan impor barang yang nantinya untuk diproduksi lagi di dalam negeri dengan tujuan diekspor paling tidak 50%. Namun, Ade menuding, kemudahan impor tersebut banyak diselewengkan, sehingga merugikan industri di dalam negeri.

Banyak importir justru melakukan impor dan menjual produk tersebut lebih banyak di dalam negeri ketimbang ekspor. Ade bilang, ciri-ciri produk tekstil impor tersebut diantaranya adalah, produk sering disebut produk sisa ekspor. ”Mereka bilang itu baju sisa ekspor,” kata Ade.

Akibat penyalahgunaan KITE tersebut, Ade mengindikasikan produk impor menggerus pangsa pasar industri tekstil dalam negeri. Untuk itu, Ade berharap agar pemerintah mau merevisi aturan soal KITE tersebut agar pasar tekstil dalam negeri kembali bergairah.

Secara terpisah, Benny Soetrisno, President Director PT Apac Inti Corpora menilai,  pemerintah punya pekerjaan rumah menyelesaikan masalah tekstil impor ilegal yang menyesaki pasar dalam negeri.

Selain itu, pemerintah juga punya pekerjaan meningkatkan daya saing industri tekstil dalam negeri dengan cara menurunkan harga energi. ”Energi berperan pada biaya produksi 15%-23%,” kata Benny.


Reporter: Emir Yanwardhana
Editor: Dupla Kartini

INDUSTRI TEKSTIL

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0381 || diagnostic_web = 0.2107

Close [X]
×