kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.964
  • SUN102,00 -0,22%
  • EMAS614.076 -0,49%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Asa menghidupkan kembali pertambakan udang Dipasena

Jumat, 13 April 2018 / 17:35 WIB

Asa menghidupkan kembali pertambakan udang Dipasena
ILUSTRASI. PANEN UDANG VANAME
Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih mendukung rekomendasi Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) untuk membangkitkan kembali pertambakan udang Dipasena di Lampung dengan menempatkannya sebagai proyek strategis nasional (PSN).

Namun, ia mengingatkan bahwa pengelolaan pertambakan udang terbesar di dunia itu haruslah tetap secara murni bisnis yang modern, yang berkelanjutan dan tetap ditangani oleh swasta.

Seperti diberitakan, KEIN dalam waktu dekat akan meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mempertimbangkan kawasan Bumi Dipasena sebagai proyek strategis nasional dan dengan menempatkannya di bawah presiden.

Ini dikemukakan oleh anggota KEIN M Najikh usai rapat revitalisasi tambak udang rakyat Bumi Dipasena di Kemko Perekonomian, Jakarta, Senin, (26/3) lalu. "Karena semua tahu sebenarnya tambak udang Vaname terbesar di dunia dulunya di Dipasena," ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Rokhmin Dahuri mengatakan Indonesia dengan garis pantai 95.185 km atau terpanjang kedua di dunia memiliki potensi lahan pesisir untuk tambak udang 3 juta Ha atau terluas di dunia.

Mantan menteri perikanan itu mengingatkan, Indonesia seharusnya menjadi produsen dan eksportir udang budidaya terbesar di dunia,

Bungaran mengatakan kalau pemerintah diharapkan terlibat dalam revitalisasi atau rehabilitasi pertambakan Dipasena, sebaiknya itu dalam investasi infrastruktur.

Memang itu merupakan kewajiban pemerintah. Tapi pengelolaannya haruslah tetap secara bisnis swasta. Kalau pun pemerintah ikut serta dalam pengelolaannya, itu diwakili oleh BUMN.

"Jadi joint-venture antara swasta dengan BUMN bidang Perikanan. Dan harus dengan tetap melibatkan langsung petambak rakyat setempat. Modelnya adalah seperti yang dahulu pernah dilaksanakan di saat kejayaan Dipasena," ujarnya, Jumat (13/4).

Ia menyayangkan, pertambakan Dipesena sekarang hanya menjadi pertambakan yang tradisional. Padahal pada masa kejayaannya (1985-1998) Dipasena pernah menghasilkan 2.000 ton udang per bulan dan mengekspor 20 ribu ton per tahun.


Sumber : TribunNews.com
Editor: Yudho Winarto

BUDIDAYA PERIKANAN

Tag
Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hotel Santika Premiere Slipi Jakarta
14 May 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy
Close [X]
×