: WIB    --   
indikator  I  

Gampang-gampang susah mengais rezeki olahraga

Gampang-gampang susah mengais rezeki olahraga

Ronde kesembilan tengah berlangsung ketika Yoshitaka Kato menanduk wajah Daud Yordan. Dari pelipis kiri petinju Indonesia itu mengucur darah segar. Wasit asal Ambon, Maluku, Nus Ririhena terpaksa menghentikan pertandingan karena luka terbuka Daud.

Nasib baik berpihak pada petinju asal Kalimantan Barat itu. Pada pertandingan yang digelar 6 Februari 2016 lalu di Balai Sarbini, Jakarta, juri memutuskan ia menang secara technical anonymous decision. Daud pun berhasil mempertahankan gelar juara tinju kelas ringan (61,2 kilogram) WBO Asia Pasifik untuk ketiga kalinya.

Untung bagi Daud tapi tak begitu dengan promotornya, Raja Sapta Oktohari. Pengusaha muda yang akrab disapa Okto itu kembali harus menelan duka. “Promotor cemberut terus setiap lihat keuangan setelah event. Hahaha....” tawa anak Wakil Ketua MPR dan pengusaha, Oesman Sapta Odang, ini.

Balai Sarbini yang disulap menjadi arena tinju bisa menampung hingga 3.000 penonton. Nahas, tiket yang terjual tak sampai 500 lembar. Padahal, Mahkota Promotion berusaha sekuat tenaga menarik minat penonton. “Legendary Match” yang mempertemukan mantan juara IBF kelas bantam yunior, Ellyas Pical, dengan sesama mantan petinju lainnya, Feras Taborat, digelar. Bahkan, dua artis sinetron: Imanual Caesar Hito dan Alex Cemal Faruk ikut pula bertarung dalam “Celebrity Fight”.

Sementara menarik hati sponsor juga bukan barang gampang, sebab tinju dikategorikan olahraga keras. Segmentasi penontonnya juga lebih terbatas. Perusahaan rokok yang biasanya royal mensponsori acara olahraga kini juga sudah dilarang berpromosi di arena olahraga. Uang yang diperoleh dari hak siar televisi tidak cukup untuk menutupi biaya yang dikeluarkan Mahkota. “Kebutuhannya hampir dua kali lipat dari uang yang diperoleh,” imbuh Okto tanpa menyebut angka.

Meski merugi, Okto tidak kaget. Pasalnya, pertandingan tinju yang ia gelar, baik yang memunculkan Daud Yordan maupun Chris John, selalu berujung kerugian. “Kalau saya berhenti, enggak ada lagi tinju internasional di Indonesia. Saya tinggal sendiri, nih, sudah beberapa tahun terakhir,” terangnya.

Okto memang tidak berlebihan. Dalam beberapa tahun terakhir, cuma satu promotor tinju baru yang muncul ke permukaan, George Santos. Promotor asal Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, yang baru berusia 20 tahun itu sekaligus merupakan promotor tinju termuda di Asia.

Mimpi di balapan

Meraih untung dari ring tinju saja sulit. Kini, pemerintah malah menjual mimpi hendak menggelar even olahraga yang jauh lebih mahal; balapan Moto GP. Pemerintah tergiur iming-iming Dorna Sports soal pasar Indonesia yang potensial. Padahal, untuk mengembalikan modal pembangunan sirkuit doang, belum terbayangkan.

Untuk menyumbang dana bagi Rio Haryanto maju di Formula 1 saja, pemerintah kepayahan. Dus, lagi-lagi harapan disandarkan pada perusahaan negara (baca pula Selamat Datang F1, Duitnya Masih Nanti).

Tak cukup contoh dari ring tinju? Tengok kompetisi Indonesian Basketball League (IBL) musim 2016. Sebagai olahraga yang popularitasnya bukan nomor 1 di Indonesia, tak mudah memasarkan basket.

Kata Hasan Ghazali, Direktur Starting 5 yang ditunjuk sebagai operator IBL musim 2016 dan 2017, baru Telkomsel, Kratingdaeng, Rajawali TV, dan beberapa sponsor kecil yang mau menjadi sponsor IBL. “Syukur-syukur bisa mencari profit di sini. Tapi sejauh memang belum profit,” kata Hasan yang juga Komisioner IBL.

Minat penonton juga masih minim. Dari beberapa seri di berbagai kota, cuma di Jakarta yang penontonnya paling ramai. Di sisi lain, klub basket di Indonesia juga belum profitable. Rata-rata pemilik menghidupi klubnya berdasarkan passion dan minat terhadap basket.

Kalaupun ada yang bisa jadi duit, datangnya dari sepakbola. Dari dua turnamen sepakbola, perusahaan milik pengusaha Erick Thohir, Mahaka Sports and Entertainment mampu meraup untung.

Untuk Piala Presiden yang digelar tahun lalu, Mahaka mengeluarkan total biaya lebih dari Rp 42 miliar. Dari situ, promotor olahraga itu mampu meraup untung bersih Rp 1,5 miliar. Angka yang terbilang lumayan mengingat turnamen itu hanya berlangsung tiga bulan.

Sementara dari Piala Sudirman, Mahaka juga berhasil meraih keuntungan. Meskipun kali ini mereka bertindak sebagai operator bukan promotor seperti di Piala Presiden. “Belum bisa saya bilang untungnya berapa, karena belum selesai audit. Tapi untungnya lebih besar sedikit dari Piala Presiden,” ujar Chief Executive Officer (CEO) Mahaka Sports and Entertainment, Hasani Abdulgani.

Sebagai entitas bisnis, keuntungan yang diperoleh jelas sangat diharapkan. Lebih dari itu, yang membuat Hasani jauh lebih senang, semua pihak yang terlibat, terutama klub dan pemain juga ikut senang dan beroleh untung.

Penonton di stadion tidak terprovokasi untuk melakukan tindakan merugikan apapun. Pasalnya, Mahaka menerapkan sanksi tegas. Misalnya, klub harus membayar denda Rp 100 juta jika terjadi aksi pemukulan dan penghinaan wasit oleh pemain dan official team.

Padahal, saat mempersiapkan turnamen, lima tim peserta sempat meragukan kredibilitas Mahaka. “Pertanyaan mereka simpel kepada kami, siapa kalian? Bisa buat apa di bola?” kenang Hasani.

Seiring pergerakan waktu, pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya. Total hadiah Rp 6,8 miliar untuk pemenang bisa diberikan dua hari lebih cepat dari deadline. Penonton puas, klub dan pemain senang, promotor pun bisa meraih laba.

Tapi, sepakbola sungguh berbeda. Sebagai olahraga nomor 1 di Indonesia, minat masyarakat tak berkurang meski kompetisi dan pembinaan amburadul.

 

BOKS

Ogah Cuma Jadi Penonton Moto GP

Tekad Tinton Suprapto menggelar Moto GP di Indonesia tampaknya sudah bulat benar. Meski memendam kekecewaan lantaran pemerintah menolak membantu lantaran terganjal aturan tak bisa memberikan dana kepada pihak swasta, pemilik Sentul International Circuit itu terus melaju dengan rencana tersebut. “Biaya sendiri. Jangan ganggu pemerintah, pemerintah lagi prihatin,” ujarnya dengan nada tinggi.

Sejauh ini, imbuh General Manager Sentul Lola Moenek, sudah ada tiga investor yang siap mendanai renovasi sirkuit sesuai ketentuan Dorna Sport. Dana yang disiapkan mencapai Rp 300 miliar. Perinciannya, Rp 160 miliar digunakan untuk menambah panjang sirkuit dari 3,9 kilometer (km) menjadi 4,3 km beserta fasilitas pendukung seperti tribun yang bisa menampung 80.000 penonton, dan membayar fee konsultan sirkuit asal Jerman, Hermann Tilke.

“Dari sejumlah uang segitu yang dikeluarkan itu akan bisa mendapatkan Rp 3,3 triliun, dari pajak, hotel, restoran, dan dari semua orang yang datang ke Indonesia,” hitung Lola.

Namun, mantan pembalap motor Matteo Guerinoni meragukan aksesbilitas Sentul yang hanya bisa dicapai lewat tol Jagorawi. Ia masih ingat saat penyelenggaraan A1 di Sentul pada 12 Februari 2006. “Saya terhenti empat jam di tol. Presiden SBY juga enggak nyampe dan harus naik motor,” katanya.

Ia malah mendukung rencana pemerintah membuat sirkuit baru. Meski jauh lebih mahal dan sulit direalisasikan, perencanaannya akan lebih matang dan terintegrasi dengan fasilitas pendukung. “Sebaiknya bikin seperti Sepang, tidak cuma untuk Moto GP tapi juga F1. Jadi efek dan manfaatnya akan lebih besar,” sarannya.

(Baca juga Mimpi Indonesia di Moto GP dan Deadline Renovasi Sentul untuk Moto GP)

 

SUMBER: Laporan Utama Tabloid KONTAN Mimpi Bisnis Olahraga Indonesia, Edisi 29 Februari – 6 Maret 2016.


Reporter Andri Indradie, Silvana Maya Pratiwi , Tedy Gumilar
Editor Andri Indradie

BISNIS INDUSTRI OLAHRAGA

Feedback   ↑ x
Close [X]