: WIB    —   
indikator  I  

Harga Batubara Acuan Januari naik ke US$ 95,54

Harga Batubara Acuan Januari naik ke US$ 95,54

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mengawali awal tahun 2018, Harga Batubara Acuan (HBA) menunjukan angka yang positif. HBA Januari ini meningkat 1,6% menjadi US$ 95,54 per ton dari Desember 2017 yang berada dilevel US$ 94,04 per ton.

Angka positif pada HBA awal tahun ini karena meningkatnya permintaan batubara dari negara-negara Asia. Juga, adanya pasar baru untuk batubara Indonesi selain China dan India, yaitu Vietnam.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, ada pasar baru untuk batubara Indonesia, yakni Vietnam. Selain itu, konsumen-konsumen utama batubara dari Indonesia pun turut meningkatkan porsi impornya.

Tapi sayang Agung belum mengetahui berapa permintaan batubara dari Vietnam. Yang jelas, kata Agung, HBA bulan ini ditetapkan senilai US$ 95,54 per ton atau naik 1,6% dari HBA Desember 2017 yang berada pada level US$ 94,04 per ton.

"Hasil tersebut sekaligus meneruskan tren positif yang dicetak batubara sepanjang tahun lalu," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (8/1).

Asal tahu saja, pada awal tahun lalu, pergerakan batubara banyak dipengaruhi oleh Australia yang operasi tambangnya sempat terganggu. Alasannya, terjadi cuaca ekstrem yang disebabkan oleh Topan Debbie yang melanda negara tersebut.

Di pertengahan tahun, ketika harga sempat turun di bawah US$ 80 per ton, China menjadi faktor utamanya. Negara tersebut mencoba menekan harga batubara dalam negeri.

Namun, tingginya curah hujan di Indonesia yang memengaruhi pasokan global dan kebijakan China untuk mengurangi produksi dalam negeri, kembali memanaskan harga emas hitam tersebut.

Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) menilai, faktor eksternal bakal kembali memegang peranan penting terhadap pergerakan harga batubara pada tahun ini.

Namun sayangnya, Direktur Eksekutif APBI, Hendra Sinadia belum bisa memproyeksikan rentang harga batubara pada tahun ini. Hal itu pun sulit dilakukan karena tingginya pengaruh faktor eksternal seperti yang terjadi pada tahun lalu.

"Harapannya tetap menguat. Tapi perlu dicermati mengingat pengaruh faktor eksternal seperti kebijakan pemerintah Tiongkok, faktor geopolitik, nilai tukar dolar AS, bahkan juga faktor cuaca dan lain-lain," kata Hendra, Senin (8/1).

 


Reporter Pratama Guitarra
Editor Rizki Caturini

REVISI UU MINERBA

Feedback   ↑ x
Close [X]