: WIB    —   
indikator  I  

Ini rencana bisnis perusahaan beton pracetak 2017

Ini rencana bisnis perusahaan beton pracetak 2017

JAKARTA. Perusahaan beton pracetak terus mempersiapkan strategi bisnis untuk mencetak pertumbuhan tahun ini. Meskipun prospek bisnis beton precash masih cerah sejalan dengan berlanjutnya pembangunan infrastruktur, para pelaku usaha tak berdiam diri menunggu pasar. Mereka juga mempersiapkan diri untuk bisa menggarap pasar lebih luas dan tidak kalah saing dari kompertitor.

PT Wika Beton Tbk (WTON) misalnya melalui perusahan patungan yang dibentuk bersama PT Wika Gedung akan mengembangkan precast gedung dengan mendirikan pabrik seluas 5 hektare (ha) di Subang. Puji Haryadi, Sekretaris Perusahaan WTON mengatakan pabrik tersebut nantinya akan memasok kebutuhan pracetak untuk proyek-proyek gedung yang akan dibangun oleh Wika Gedung.

"Saat ini kalau untuk kebutuhan beton pracetak gedung masih diproduksi di pabrik eksisting kita," jelasnya pada KONTAN, Jumat (17/2).

Saat ini rencana pembangunan pabrik tersebut masih dalam proses peizinan. Rencananya akan dibangun pada semester II 2017 dan akan selesai dalam waktu enam bulan.

Hanya saja, Puji bisa menyampaikan investasi yang disiapkan untuk pembangunan pabrik tersebut. Wika Beton meyakini prospek bisnis beton pracetak gedung akan semakin menjanjikan lantaran saat ini saat ini sangat marak pembangunan gedung dengan menggunakan produk precash.

Selain itu, WTON juga akan terus melakukan penambahan kapasitas di luar anak usaha. Saat ini kapasitas produksi perusahaan tersebut baru 2,6 juta ton per tahun. Tahun ini mereka menargetkan penambahan kapasitas produksi 400.000 ton sehingga menjadi 3 juta ton per tahun dengan pembangunan baru baru di Subang seluas 30 ha dan perluasan kapasitas di pabrik eksisting.

Srategi lain yang akan dilakukan WTON untuk bisa menggarap pasar lebih luas adalah dengan mulai merambah ke bisnis ready mix atau beton curah tahun ini. Puji bilang, ini akan diproduksi untuk proyek-proyek jalan tol, LRT dan pembangunan bandara.

Kemudian, Wika Beton juga akan terus mengembangkan teknologi baru di industri pracetak. "Salah satu teknologi terbaru yang kita hadirkan adalah engineering box girder untuk jembatan Semanggi," kata Puji.

Sementara untuk pengembangan usaha, WTON akan melakukan kerjasama operasi (KSO) dengan perusahaan lain. Terakhir, anak usaha Wijaya Karya ini telah membentuk KSO dengan Imrail yakni perusahan pembuat sistem dan design produk pracetak asal Malaysia untuk proyek LRT Jakarta.

Puji mengatakan saat ini, pihaknya tengah menjajaki KSO dengan investor jalan tol dan dengan perusahan Jepang untuk pengembangan proyek yang dibiayai oleh JICA.

Tahun ini, WTON optimis kinerja mereka akan tumbuh sejalan dengan strategi yang mereka siapkan. Mereka menargetkan pendapatan tumbuh 50% tahun ini menjadi Rp 5,1 triliun dan laba bersih Rp 360 miliar atau meningkat 28,4% dari tahun 2016 sebesar Rp 272 miliar. Sedangkan kontrak baru Rp 6,3 triliun. Adapun belanja modal (capex) yang disiapkan untuk ekspansi mencapai Rp 680 miliar.

Lalu PP Parcetak juga menyiapkan strategi yang lebih besar untuk mendorong pertumbuhan bisnis yakni dengan menambah pilar bisnis ke sektor properti yang fokus menggarap proyek low cost Housing. Selain untuk merealisasikan penugasan pemerintah untuk mendukung program sejuta rumah, ekspansi PP Pracetak sektor properti ini akan mendorong peningkatan bisnis pracetak mereka. Pasalnya, properti yang akan dikembangkan akan menggunakan beton pracetak.

Dalam lima tahun ke depan, Perusahaan yang akan segera berganti nama menjadi PP Urban ini akan membangun 170.000 unit hunian untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Proyek tersebut rencananya akan dibangun di delapan lokasi baik melaui pengembangan sendiri, kerjasama dengan perusahaan swasta, menggandeng perusahaan BUMN ataupun memanfaatkan tanah-tanah negara.

Proyek hunian tersebut rencananya akan dibangun di Pamulang Tangerang Selatan, Karawaci, Cengkareng, Cikarang, Karawang, Pulau Gadung, Manggarai, dan Kemayoran. Pada Maret mendatang, PP Pracetak akan membangun 6.000 unit Low Cost Housing di Pamulang.

Dengan potensi tambahan pasar baru, PP Pracetak akan terus melakukan penambahan kapasitas produksi beton pracetak. Jika pada akhir tahun lalu kapasitas produksinya baru mencapai 1,04 juta ton per tahun, maka tahun ini perusahaan ini menargetkan 1,85 juta ton per tahun dan 2,1 juta ton pada tahun 2018.

Kapasitas yang ada saat ini diproduksi lewat tiga pabrik permanen di Sadang, Bojonegoro dan Lampung dan beberapa mobile plant. Tahun ini, PP Pracetak akan menambah kapasitas sekitar 800.000 ton per tahun dengan membangun dua pabrik baru diTangerang dan Karawang serta penambahan kapasitas di pabrik yang ada di Sadang. "Investasi yang disiapkan untuk menambah kapasitas tahun ini sebesar Rp 1,2 triliun," kata Bambang Rianto, Direktur Utama PTPP pada KONTAN, Kamis (16/2).

Untuk pengembangan pabrik Pracetak, anak usaha PTPP ini akan bekerjasama dengan perusahaan asal korea Hanwha Engineriing & construction Corporation. Dengan kerjasama tersebut, Bambang yakin ke depan pihaknya akan menjadi perusahaan pracetak terbesar di Indonesia.

Sejalan dengan masuknya ke bisnis properti, PP Pracetak optimis akan mencetak kinerja yang lebih baik. Tahun ini, perusahaan ini menargetkan pendapatan Rp 4,3 triliun, melonjak tajam dari pencapaian tahun 2016 yang hanya mencapai Rp 1,3 triliun. Sedangkan laba bersih dibidik meningkat dari Rp 60 miliar menjadi Rp 239 miliar.

Untuk menjalankan ekspansinya, PP Pracetak akan menganggarkan belanja modal Rp 5,9 triliun tahun ini. Dananya berasal dari suntikan modal induk usaha serta dana hasil IPO yang rencananya akan digelar pada kuartal III tahun ini.

Tak ketinggalan, PT Waskita Beton Precast Tbk juga akan terus ekspansi bisnis. Tahun ini perusahan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham WSBP ini akan membangun dua pabrik baru di Kalimantan dan Sumatra Utara serta menambah 42 batching plant. Capex yang disiapkan untuk itu mencapai Rp 1,9 triliun.

Saat ini WSBP telah memiliki 10 pabrik dengan kapasitas 2,65 juta ton per tahun dan 41 buah batching plant (BP) yang tersebar di seluruh lokasi proyek. Adapun lokasi pabrik itu terletak di daerah Karawang, Sadang, Cibitung, subang, kalijati, Bojonegoro, Klaten, Sidoarjo dan dua pabrik berlokasi di Palembang. Dengan ekspansi tersebut, kapasitas produksi mereka ditargetkan akan meningkat menjadi 3,25 juta ton per tahun.

WSBP optimistia prospek bisnis pracetak masih cerah tahun ini terutama mengingat banyaknya proyek-proyek infrastruktur yang digarap induknya saat ini. Perusahan ini menargetkan pendapatan tahun 2017 bisa mencapai Rp 7,7 triliun atau naik 63% dari tahun lalu sebesar Rp 4,7 triliun dan laba bersih diharapkan tumbuh 85% dari 634 miliar tahun 2015 menjadi Rp 1,1 triliun. Sedangkan kontrak baru ditargetkan Rp 12,3 triliun tahun ini.


Reporter Dina Mirayanti Hutauruk
Editor Adi Wikanto

INDUSTRI KONSTRUKSI

Feedback   ↑ x
Close [X]