INDUSTRI KOMPONEN OTOMOTIF
Investor Eropa ogah bersaing dengan Jepang
Oleh Tendi Mahadi - Jumat, 21 September 2012 | 09:52 WIB
JAKARTA. Niat pemerintah meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) produk otomotif dengan mengundang investor asing ternyata baru menarik minat segelintir investor komponen otomotif, terutama dari Asia. Investor komponen otomotif dari Eropa justru masih enggan berbisnis di Indonesia.
Ketua Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor Indonesia (GIAMM), Hadi Surjadipradja mengatakan dukungan infrastruktur yang kurang memadai menjadi salah satu penyebab investor komponen benua biru belum tertarik berbisnis di Indonesia. Seperti kondisi jalan yang belum memadai serta kapasitas pelabuhan yang masih belum mencukupi. "Mereka masih sebatas mempertimbangkan Indonesia sebagai negara tujuan investasi komponen otomotif," katanya.
Minimnya fasilitas infrastruktur ini membuat biaya logistik melonjak. Secara umum, biaya logistik memakan porsi 12% - 15% dari total biaya produksi. Hal ini dirasa kurang menguntungkan bagi pengusaha Eropa.
Padahal, grup industri komponen Eropa (International Automotive Components Group/IAC) mengatakan bahwa kawasan Asia Tenggara merupakan pasar paling potensial guna memperluas pasar komponen dari pabrikan Eropa. Sayangnya, pebisnis Eropa lebih suka bercokol di negara lain seperti Thailand, Malaysia, hingga China.
Ketiga negara tersebut bisa memberikan penawaran yang menarik bagi investor Eropa di sektor komponen otomotif. "Sebetulnya IAC sempat menjajaki rencana investasi di Indonesia tetapi kondisi di dalam negeri dinilai kurang cocok," ungkapnya.
Di luar itu, pengaruh nama besar dari merek-merek asal Jepang turut membuat investor asal Eropa berpikir dua kali untuk masuk ke Indonesia. Sehingga tak heran banyaknya investasi otomotif maupun komponennya kebanyakan berasal dari Jepang.
Tahun ini, pemerintah menargetkan investasi komponen otomotif sebesar US$ 2 miliar.
- Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
- Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
- Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
- KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.
