: WIB    --   
indikator  I  

Konsumsi energi Indonesia diprediksi terus tumbuh

Konsumsi energi Indonesia diprediksi terus tumbuh

KONTAN.CO.ID - Konsumsi energi akan terus tumbuh seiring menurunnya harga minyak dunia. Berdasarkan data British Petroleum (BP), pertumbuhan konsumsi energi akan terus terjadi hingga 20 tahun ke depan.

BP Group Chief Economist, Spencer Dale menyebut, permintaan terhadap minyak pada tahun lalu menunjukan adanya pertumbuhan hingga mencapai 1.6 juta barel oil per day (BOPD). Namun secara rata-rata pertumbuhan permintaan minyak pun masih berada di kisaran angka 1 juta BOPD.

"Permintaan terhadap minyak merupakan respon dari harga. Ketika harga turun, masyarakat akan membeli minyak lebih banyak. Pengimpor minyak mendapatkan keuntungan dari rendahnya harga minyak ini," ujar Dale di Kementerian ESDM di Jakarta, Kamis (14/9).

Menariknya, seluruh pertumbuhan permintaan energi ini berasal dari negara-negara berkembang, terutama dari China, India, dan negara Asia lainnya seperti Indonesia. Sementara itu, permintaan akan energi di negara anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) seperti Australia, Jerman, Prancis, Korea, Inggris, dan Amerika Serikat cenderung menurun.

"Permintaan minyak dari negara OECD telah menurun dalam 10 tahun terakhir dan akan terus menurun ke depannya," jelasnya.

Pertumbuhan permintaan terhadap energi di negara seperti China, India, dan Indonesia dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi dan jumlah populasi yang cukup besar. Di sisi lain, faktor suplai juga menjadi penting karena saat ini suplai minyak sudah cukup melimpah. 

Khusus di Indonesia, Dale menyebut pada tahun lalu telah terjadi peningkatan konsumsi energi di Indonesia sebesar 5,9%. Dale yakin pertumbuhan konsumsi energi di Indonesia akan terus meningkat terutama jika melihat statistik pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi akan tetap berada di kisaran angka 5% dalam lima hingga 10 tahun mendatang.

Dia memperkirakan, jika pertumbuhan GDP Indonesia masih tetap sama di kisaran 5%, maka pertumbuhan konsumsi energi kemungkinan berada di bawah 5% dengan catatan pemerintah terus menerapkan pencabutan subsidi BBM.


Reporter Febrina Ratna Iskana
Editor Rizki Caturini

ENERGI

Feedback   ↑ x
Close [X]