: WIB    —   
indikator  I  

OASA mencari peruntungan di listrik dan teko

OASA mencari peruntungan di listrik dan teko

JAKARTA. Manajemen PT Protech Mitra Perkasa Tbk bertekad memperbaiki kinerja. Kini perusahaan yang bergerak di bisnis perdagangan, pembangunan dan jasa khususnya kekanikal dan teknik sipil elektro ini akan mencari peruntungan sektor ketenagalistrikan dan telekomunikasi.

Di sektor ketenagalistrikan, Protech Mitra membidik peran sebagai sub kontraktor penggarap mekanik listrik untuk transmisi dan pembangkit listrik di Jawa dan Sumatra. Supaya rencana lancar, mereka menyiapkan dana belanja modal Rp 40 miliar.

Protech Mitra menyisir peluang dari mega proyek listrik 35.000 megawatt (MW) pemerintah. Tanpa membeberkan detailnya, perusahaan berkode saham OASA di Bursa Efek Indonesia itu mengaku sudah mengantongi beberapa kontrak bisnis.

Protech Mitra akan memulai pekerjaan ketenagalistrikan mulai semester II-2017. "Sekarang kami tinggal masalah proses administrasi dan lainnya, itu sudah pasti akan dapat," ujar Anton Santoso, Direktur Utama PT Protech Mitra Perkasa Tbk kepada KONTAN, Jumat (2/6).

Sementara dari sektor telekomunikasi, manajemen Protech Mitra tengah membidik peluang sebagai sub kontraktor proyek Palapa Ring. Mereka mengincar jasa penyediaan kabel serat optik dan instalasi di proyek raksasa tersebut.

Namun, Protech Mitra masih harus bersabar. Sejauh ini, mereka sedang menanti hasil negosiasi bisnis dengan salah satu dari pemenang konsorsium Palapa Ring. Manajemen perusahaan merahasiakan identitas pemenang konsorsium yang didekati.

Yang terang, dua strategi tadi mencuatkan peluang untuk memulihkan kinerja. "Kami targetkan dari seluruh total pendapatan, peningkatan tahun ini bila dibandingkan dengan tahun 2015 lalu sekitar 50%," kata Anton.

Perlu diketahui, Protech Mitra pilih mengacu pada kinerja 2015 karena tahun lalu kinerja mereka jeblok. Manajemen perusahaan menyebutkan, minimnya ekspansi bisnis sebagai musabab.

Tahun 2016, pendapatan Protech Mitra menyusut hampir empat kali lipat menjadi Rp 6,92 miliar. Akibatnya bottom line tercatat rugi Rp 1,42 miliar. Padahal tahun 2015 masih untung Rp 3,04 miliar.


Reporter Andy Dwijayanto
Editor Sanny Cicilia

TELEKOMUNIKASI

Feedback   ↑ x
Close [X]