INDUSTRI
Berita
Petani cabai Jawa Barat mulai kelimpungan

Produksi Cabai

Petani cabai Jawa Barat mulai kelimpungan


Telah dibaca sebanyak 974 kali
Petani cabai Jawa Barat mulai kelimpungan

CIAMIS. Ratusan petani cabai di sentra sayur-mayur Ciamis di Kecamatan Sukamantri sebulan terakhir ini kelimpungan menyusul anjloknya produksi cabai mereka. Tidak hanya karena dampak kekeringan tapi juga akibat serangan ulat.

"Penurunan produksi rata-rata 50 persen. Dalam kondisi normal tiap pohon cabai biasanya menghasilkan satu kilogram cabai. Namun selama musim kemarau ini rata-rata hanya lima ons per pohon. Bahkan yang paling ada yang hanya 3 ons per pohon," ujar Ketua Gabungan Kelompok Tani sayur-mayur Karangsari Sukamantri Ciamis, Pipin Arif Apilin kepada Tribunnews.com akhir pekan lalu

Kekurangan air akibat kemarau kata Pipin membuat kualitas agak buah berkurang dan cepat matang. Buah cabai yang lengket juga berkurang, karena banyak kembang yang rontok sebelum menjadi buah. Kurangnya air dan kondisi cuaca yang tidak lembap mempengaruhi kualitas dan kuantitas buah. "Selain itu banyak juga buah cabai yang rontok akibat dimakan hama ulat. Selama musim kemarau ini serangan hama ulat cukup tinggi. Sasaran utamanya buah muda atau cabai hijau," papar Pipin.

Meski produksi anjlok sampai 50 persen, namun pasokan ke pasar-pasar induk baik itu Pasar Caringin, Pasar Keramat Jati, Tanah Tinggi di Jakarta maupun Cikarang Bekasi tetap stabil, Terutama permintaan Pasar Caringin Bandung, dua ton tiap hari kata Pipin selalu terpenuhi. "Kebetulan saat ini petani mengalami panen serentak jadi produksi masih stabil," ujarnya.

Dari 150 hektare kebun cabai di Sukamantri kata Pipin hanya 117 hektare yang ditanami cabai, lebihnya sekitar 33 hektare tidak bisa ditanami karena kesulitan air. Dari 117 hektare yang berisi tanaman cabai tersebut seluas 70 hektare di antaranya sedang memasuki masa panen.

Musim kemarau juga membuat biaya produksi yang ditanggung petani naik tajam. "Dalam kondisi normal biaya produksi hanya berkisar Rp 60 juta per hektare. Kini naik jadi Rp 80 juta per hektare. Kenaikan biaya terutama untuk penyediaan air bersih," terangnya.

TribunNews.com Reporter : Adityas Azhari

Editor: Djumyati Partawidjaja
Telah dibaca sebanyak 974 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Simak sektor mana saja yang prospektif!

    +

    Sejak awal tahun hingga 22 September 2014, saham-saham sektor perbankan memberikan return terbesar.

    Baca lebih detail..

  • Meramal gerak IHSG setelah rekor

    +

    Analis berbeda pendapat soal prospek kinerja IHSG ke depannya.

    Baca lebih detail..