: WIB    —   
indikator  I  

Properti diperkirakan jadi tumpuan ekonomi 2018

Properti diperkirakan jadi tumpuan ekonomi 2018

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tantangan ekonomi Indonesia diperkirakan masih berat pada tahun depan. Meskipun diprediksi tahun depan kondisi ekonomi akan lebih baik dari tahun 2017, namun tidak akan setinggi ekspektasi yang diharapkan.

Penyebabnya karena ekonomi Indonesia masih sangat tergantung pada sektor komoditas, sementara harga komoditas masih terus merosot. Juga ekonomi global juga masih dalam tren stagnan. Kemudian gejolak akan bertambah karena tahun depan sudah mulai persiapan menjelang tahun politik.

Sektor yang diharapkan bisa mendorong ekonomi Indonesia adalah properti. Pasalnya, bisnis properti memiliki 170 industri turunan.

Dalam diskusi Rumah.com Property Outlook 2018 di Jakarta, Agustinus Prasetyantoko, Pengamat Ekonomi dari Unika ATMA Jaya Jakarta sebagai salah satu pembicara mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat tergantung pada konsumsi dan belanja pemerintah.

Aktivitas perekonomian masih bergantung pada komoditas yakni mencapai 60% maka masih susah mendorong konsumsi dari sektor ini. Sedangkan semester II ini, belanja pemerintah tidak akan seagresif semester I. Banyak proyek-proyek infrastruktur besar yang ditahan karena penerimaan pajak masih jauh dari target.

Kekhawatiran Agustinus terkait ekonomi tahun depan adalah dinamika politik. Jika dinamika tidak terkendali bisa membuat pertumbuhan ekonomi semakin jauh dari harapan. "Saya melihat pertarungan politik untuk 2019 sudah dimulai dengan pidato Gubernur Jakarta soal Pribumi, " ujarnya.

Pembicara lainnya, Barly Haliem, Redaktur Eksekutif Harian KONTAN melihat, ada dua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan industri properti tahun depan yaitu faktor positif dan faktor negatif.

Dari sisi negatif, suhu politik awal tahun depan sudah akan mulai panas hingga tahun 2019. Menurut Barly, ini berpengaruh pada iklim investasi. Gejolak politik dikhawatirkan bisa mempengaruhi rating investasi Indonesia baru-baru ini sudah mendapatkan rating dari S&P.

Kemudian, tantangan paling besar adalah nilai tukar rupiahnya yang terlalu lemah. Barly bilang, dalam 5 tahun terakhir rupiah sudah anjlok 40%. Ini penting dijaga karena 70% industri di Indonesia sangat tergantung pada komponen impor. "Jika rupiah terus melemah nanti uang masyarakat akan habis untuk membeli kebutuhan industri dan tidak ada lagi untuk beli properti, " jelasnya.

Sementara faktor positifnya, banyak proyek infrastruktur yang sedang dibangun pemerintah akan beroperasi tahun depan. Ini tentu akan mendorong mendorong perekonomian di sekitar proyek terutama untuk bisnis properti.

"Kemudian pemerintah juga sudah banyak memberikan insentif di sektor properti seperti Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) 0% untuk harga tertentu," kata Barly.

Sisi positif lainnya, perbankan juga sudah lebih percaya untuk menyalurkan kredit ke sektor properti sehingga diharapkan bisa mendorong bisnis properti. Dari berbagai faktor itu, Barly melihat gejolak tahun depan masih besar tetapi industri properti menurutnya masih akan tumbuh.

Ike Hamdan, Head of Marketing Rumah.com memperkirakan, pasokan rumah tahun depan akan tumbuh 15%-20%. Sedangkan harga properti diprediksi akan naik sekitar 3%-5%.


Reporter Dina Mirayanti Hutauruk
Editor Rizki Caturini

INDUSTRI PROPERTI

Feedback   ↑ x
Close [X]