: WIB    --   
indikator  I  

Baramulti tak lagi idolakan India dan China

Baramulti tak lagi idolakan India dan China

JAKARTA. Pasar batubara India dan China tak lagi menjadi idola PT Baramulti Suksessarana Tbk. Tahun ini, mereka hanya perlu menjaga eksistensi kedua pasar tersebut. Selanjutnya, Baramulti memilih memacu penjualan batubara di pasar domestik dan Korea Selatan.

Baramulti ingin memperbesar kontribusi penjualan batubara domestik dari 18% tahun lalu menjadi 30% tahun ini. Sementara target peningkatan kontribusi penjualan Korea Selatan yakni dari 8% tahun lalu menjadi 15% tahun ini.

Pertimbangan Baramulti, kebutuhan batubara di dalam negeri bakal melonjak seiring maraknya pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Hingga tahun 2025, mereka memperkirakan permintaan batubara akan meningkat dua kali lipat ketimbang saat ini.

Adapun target produksi perusahaan ini di 2017 sebesar 10 juta ton batubara. Perusahaan berkode saham BSSR di Bursa Efek Indonesia tersebut mengandalkan tambang di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Patut dicatat, target produksi 10 juta ton batubara tadi merupakan target minimal sesuai rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB). Dus, tak menutup kemungkinan target produksi lebih besar lagi.

Lokasi eksplorasi Baramulti di Kalimantan Selatan masih berada dalam area perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B) tambang PT Antang Gunung Meratus seluas 22.433 hektare (ha). Sementara luas area tambang baru mencapai 1.000 ha-2.000 ha.

Baramulti mengaku, sudah mengantongi calon pembeli. "Sebagian sudah ada (kontrak), kira-kira yang mau cover dari total produksi semua itu 30%-40% sudah ada kontraknya," beber Eric Rahardja, Direktur Keuangan PT Baramulti Suksessarana Tbk, Rabu (15/3).

Sebagai perbandingan, produksi batubara Baramulti tahun 2016 sebesar 7,94 juta ton. Sementara volume penjualan batubara mencapai 8,26 juta ton dengan harga jual rata-rata US$ 29,39 per ton.

Sebaran penjualan Baramulti meliputi 38% India, 31% China dan 18% domestik. Lantas, 8% Korea Selatan dan 5% pasar lain-lain.

Untuk memuluskan agenda produksi tahun ini, Baramulti menyiapkan dana belanja modal alias capital expenditure (capex) US$ 13,37 juta. Perincian penggunaan capex meliputi US$ 5,41 juta untuk eksplorasi, US$ 3,58 juta untuk fasilitas pendukung lain dan US$ 3,57 juta untuk fasilitas infrastruktur. Sisanya, US$ 0,81 juta belanja mesin dan alat berat.

Alokasi capex 2017 lebih besar ketimbang realisasi capex tahun 2016 yakni US$ 10,21 juta. Baramulti menggunakan sebagian besar capex tahun lalu untuk mendanai fasilitas pengangkutan batubara di Lok Buntar, Kalimantan Selatan.

Harga batubara

Selain memacu kinerja internal, Baramulti mencermati pergerakan harga jual batubara. Perkiraan mereka, harga batubara berpeluang turun tapi tak akan jatuh seperti tahun 2015 silam.

Baramulti memprediksi, harga batubara pada semester II bakal turun hingga US$ 65-US$ 70 per ton. "Tahun 2017 ini ya, kami mengharapkan efek-efek harga batubara yang baru kan HBA (harga batubara acuan) US$ 80 per ton akan mulai terasa di pendapatan kami tahun ini, harusnya sih ada peningkatan yang signifikan," kata Eric.

Tahun ini, Baramulti berharap, kinerja penjualan dan laba mendaki sama besar. Target mereka adalah pertumbuhan kinerja 50% ketimbang capaian tahun lalu. Realisasi penjualan dan laba bersih mereka tahun 2016, masing-masing adalah US$ 242,6 juta dan US$ 27,42 juta. 


Reporter Andy Dwijayanto
Editor Dupla KS

BATUBARA

Feedback   ↑ x
Close [X]