: WIB    --   
indikator  I  

Siantar Top tetap ngetop di pasar tradisional

Siantar Top tetap ngetop di pasar tradisional

JAKARTA. Sepertinya tahun ini PT Siantar Top Tbk belum mau jauh-jauh dari pasar tradisional. Maklum, penjualan lewat jalur pasar tradisional berkontribusi terbesar bagi penjualan produsen makanan ringan Twistko dan Goriorio tersebut.

Barulah sisa kontribusi penjualan berasal jalur pasar modern. Hanya saja dengan alasan persentase keduanya cepat berubah, manajemen Siantar Top tak membeberkan komposisi kedua jalur penjualan yang dimaksud.

Meski jalur penjualan pasar tradisional sangat menjanjikan, bukan berarti Siantar Top hanya akan berkutat pada produk dengan segmen menengah ke bawah. "Tidak juga, kami terus garap segmen di atas itu juga," ujar Armin, Direktur Operasional Siantar Top Tbk, saat dihubungi KONTAN, Selasa (14/3).

Target pertumbuhan penjualan Siantar Top tahun ini termasuk agresif. Perusahaan berkode saham STTP di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu ingin mendaki 20%-30%.

Supaya target tak meleset, tahun ini Siantar Top juga berencana melecut penjualan ekspor hingga berkontribusi 5%. Perusahaan ini akan memperdalam pasar di 17 negara ekspor yang tersebar di Asia Tenggara, Timur Tengah, Australia dan Afrika. Pada saat yang bersamaan, Siantar Top coba mengulik pasar baru.

Strategi lain, Siantar Top akan meluncurkan produk baru. "Bisa 20 macam atau lebih," kata Armi tanpa memeberkan detailnya.

Meskipun target penjualan tahun 2017 meningkat, Siantar Top tak menambah kapasitas produksi. Pasalnya, utilisasi produksi empat pabrik belum sampai 100%.

Catatan internal mereka, idle capacity alias kapasitas menganggur yang belum dimanfaatkan untuk pabrik biskuit sebesar 30%, sedangkan pabrik mi antara 30% sampai dengan 35%.

Taman hiburan

Mengintip materi paparan publik 24 Desember 2016, Siantar Top memiliki pabrik di Tambak Sawah (Sidoarjo), Medan (Sumatra Utara) dan Bekasi (Jawa Barat). Sementara cabang penjualan mereka terbagi dalam empat area, yaitu Sidoarjo, Bekasi, Medan dan Makassar. Penjualan dari cabang Sidoarjo berkontribusi terbesar hingga 64%.

Tahun ini Siantar Top mengalokasikan dana belanja modal alias capital expenditure (capex) sekitar Rp 440 miliar. Sebanyak Rp 215 miliar di antaranya akan mereka gunakan untuk membayar utang jatuh tempo. Lalu, Rp 25 miliar capex untuk mendanai rencana perluasan usaha.

Adapun Rp 200 miliar capex lagi bakal Siantar Top pakai untuk membiayai pengembangan lini bisnis anyar sektor wisata. Perusahaan tersebut berecana membangun theme park alias taman hiburan di Sidoarjo. Luas area pengemban hingga 7 hektare (ha).

Sejatinya, proyek taman hiburan tadi membutuhkan total dana Rp 600 miliar. Namun, Siantar Top memang menjadwal pembangunan secara bertahap. Target mereka, pembangunan taman hiburan tersebut rampung semuanya pada tahun 2018.

Sejauh ini Siantar Top memang belum merilis capaian kinerja tahun 2016. Namun, manajemen perusahaan mengaku tak puas dengan capaian tahun lalu karena pertumbuhannya di bawah 10% ketimbang tahun 2015. Sejumlah kendala mereka hadapi tahun lalu. Selain tak jadi merilis produk baru, Armin mengatakan, ada regulasi ekspor yang tak bersahabat.

Menurut catatan pemberitaan KONTAN, Siantar Top mengincar penjualan Rp 3 triliun-Rp 3,5 triliun sepanjang tahun 2016. Namun, mereka hanya memenuhi 75% dari target. Hitung punya hitung, pencapaian penjualan Siantar Top tahun lalu antara Rp 2,25 triliun-Rp 2,63 triliun.


Reporter Agung Hidayat
Editor Rizki Caturini

INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN

Feedback   ↑ x