Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gangguan penerbangan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi tantangan bagi industri penerbangan domestik. Selain mengganggu jadwal penerbangan, kondisi ini juga berpotensi menekan pendapatan maskapai karena operasional terhambat, sementara sejumlah biaya tetap berjalan.
Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto mengatakan, gangguan penerbangan akibat karhutla memberikan dampak langsung terhadap pendapatan maskapai.
"Yang jelas rugi, operasional yang mestinya dapat revenue jadi zonk dan fixed cost tetap jalan. Ada juga sebagian variable cost yang tetap bayar," kata Bayu kepada Kontan, Senin (19/10/2026).
Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat sebanyak 2.458 penerbangan berjadwal domestik terdampak karhutla selama periode 11 Agustus hingga 17 Oktober 2026.
Baca Juga: Gandeng Rosatom, PT Pembangkit Listrik Nuklir akan Bangun PLTN di Maluku Utara
Jumlah tersebut bertambah 437 penerbangan dibandingkan dengan data per 13 Oktober 2026 yang mencapai 2.021 penerbangan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa dampak karhutla terhadap operasional penerbangan masih meluas.
Bayu menyebut, maskapai yang paling terdampak adalah perusahaan dengan frekuensi penerbangan tinggi di wilayah yang mengalami karhutla. Sejumlah wilayah yang menjadi perhatian antara lain Kalimantan, Maluku dan Maluku Utara (Malut), serta Sumatera.
"Yang terdampak tentu maskapai yang jumlah flight-nya paling banyak terbang di lokasi-lokasi karhutla tersebut," ujarnya.
Meski demikian, INACA belum melakukan penghitungan secara spesifik mengenai potensi kerugian yang ditanggung maskapai akibat gangguan penerbangan tersebut.
Bayu menjelaskan, maskapai menghadapi keterbatasan dalam menekan biaya operasional ketika gangguan berkaitan dengan keselamatan penerbangan. Pasalnya, aspek keselamatan merupakan prioritas utama dalam menjalankan layanan transportasi udara.
Kondisi tersebut membuat maskapai tidak leluasa melakukan efisiensi untuk mengimbangi potensi kehilangan pendapatan. Di tengah gangguan operasional, sejumlah komponen biaya tetap harus dibayarkan.
Baca Juga: PGN (PGAS) Catat Penurunan Emisi 29.574 Ton CO2eq hingga Agustus 2026
Oleh karena itu, INACA berharap pemerintah dapat mempercepat penanganan karhutla agar dampaknya terhadap aktivitas masyarakat dan industri penerbangan tidak semakin meluas.
"Kita berharap karhutlanya bisa dikendalikan dengan cepat," kata Bayu.
Menurut Bayu, karhutla tidak hanya menimbulkan persoalan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak asap, tetapi juga berkaitan langsung dengan keselamatan penerbangan.
Karena itu, pengendalian karhutla perlu menjadi perhatian serius agar risiko gangguan penerbangan dapat diminimalkan. Upaya tersebut juga penting untuk menjaga kelancaran operasional maskapai di wilayah terdampak.
"Yang terdampak selain kesehatan warga juga keselamatan penerbangan. Kalau menyangkut safety, kita tidak bisa menekan lagi cost-nya," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














