Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Obesitas merupakan penyakit kronis kompleks yang tidak hanya berkaitan dengan berat badan, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung koroner dan fibrilasi atrium.
Bobby Arfhan Anwar, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi mengatakan, eratnya hubungan obesitas dengan masalah kesehatan jantung membuat penanganannya perlu dilakukan sejak dini dan secara berkelanjutan.
“Jika sebelumnya obesitas sering dianggap hanya sebagai kondisi atau karakteristik seseorang,tapi sejak tahun 2025, WHO telah menetapkan obesitas sebagai golongan penyakit yang membutuhkan penanganan,” kata Bobby diskusi bertajuk World Heart Day: Beyond the Scale, Toward Better Heart Health yang digelar Novo Indonesia, Senin (28/9/2026).
Bobby menyebut, studi menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 3 kematian di dunia disebabkan oleh penyakit kardiovaskular atau penyakit yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah. Sementara itu, sekitar 70% kematian akibat penyakit kardiovaskular berkaitan dengan kelebihan berat badan atau obesitas.
Baca Juga: Novo Dorong Kolaborasi Memperkuat Keamanan Obat
Risiko penyakit jantung pada orang dengan obesitas dapat meningkat karena berbagai faktor. Salah satunya adalah resistensi insulin yang lebih tinggi. Selain itu, penumpukan lemak berlebih, terutama lemak viseral atau lemak yang berada di sekitar organ, dapat memicu peradangan di dalam tubuh. Peradangan ini juga dapat mempengaruhi pembuluh darah dan meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular.
Obesitas tidak hanya meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, tetapi juga dapat memicu gangguan irama jantung, terutama fibrilasi atrium. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh peradangan, perubahan pada jantung, gangguan metabolisme, dan gangguan tidur.
Menurut Rizky Aulia Fanani, okter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia serta perwakilan PERKI, penurunan berat badan yang dilakukan secara konsisten dapat membantu mengurangi frekuensi dan durasi episode fibrilasi atrium serta memperbaiki faktor risiko penyakit jantung lainnya.
Namun, tantangan menurunkan berat badan tidak mudah. Studi ACTION APAC di Indonesia menunjukkan bahwa 68% orang dengan obesitas kembali mengalami kenaikan berat badan setelah berhasil mempertahankan berat badannya selama enam bulan atau lebih.
Hal itu menunjukkan bahwa obesitas merupakan penyakit yang dapat kambuh, sehingga sebagian orang mungkin membutuhkan dukungan dan penanganan medis selain perubahan gaya hidup.
Dokter spesialis gizi klinik sekaligus Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia cabang Banten, Juwalita Surapsari, mengatakan banyak orang dengan obesitas sudah mencoba berbagai diet dan olahraga tetapi berat badannya kembali naik. Menurutnya, hal ini terjadi karena tubuh memiliki mekanisme biologis yang membuat rasa lapar meningkat dan pembakaran energi menurun setelah berat badan turun.
“Karena itu, pengelolaan obesitas tidak selalu cukup hanya dengan perubahan pola makan dan aktivitas fisik. Sebagian orang membutuhkan intervensi jangka panjang, termasuk terapi obat sesuai indikasi dan pengawasan dokter,” kata Juwalita.
Sebagian orang dengan obesitas membutuhkan dukungan terstruktur dan terapi tambahan selain perubahan pola makan dan aktivitas fisik. Salah satunya adalah terapi berbasis GLP-1 RA, yang dapat dipertimbangkan sesuai indikasi medis dan harus dilakukan di bawah pengawasan dokter.
Juwidta menambahkan, aktivitas fisik juga perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh. Pada orang dengan obesitas berat, olahraga low impact, seperti berjalan atau berenang, dapat menjadi pilihan karena lebih ringan bagi sendi. Pemeriksaan kesehatan sebelum memulai olahraga juga penting untuk memastikan jenis aktivitas yang aman dan sesuai.
Baca Juga: Novo Nordisk Perkuat Pengembangan SDM
Riyanny M. Tarliman, Associate Director, Medical & Regulatory Novo Indonesia, menyebut obesitas membutuhkan penanganan yang tepat, komprehensif, dan berkelanjutan sesuai kondisi masing-masing individu. “Kami ingin mendorong lebih banyak orang untuk memahami risiko obesitas, tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, serta mendapatkan pengelolaan yang tepat,” ujar Riyanny.
Ia bilang Penggunaan terapi berbasis GLP-1 tetap harus berdasarkan indikasi medis, evaluasi dokter, serta pemantauan respons dan toleransi pasien. Keamanan pasien menjadi prioritas dalam menentukan terapi yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Studi SELECT yang melibatkan lebih dari 17.000 orang dengan obesitas atau berat badan berlebih, penyakit kardiovaskular, dan tanpa diabetes menunjukkan bahwa terapi berbasis GLP-1 RA menurunkan risiko kejadian kardiovaskular mayor (MACE) sebesar 20% dibandingkan plasebo. MACE mencakup kematian akibat penyakit kardiovaskular, serangan jantung nonfatal, dan stroke nonfatal.
Riyanny menyebit, Novo Indonesia berkomitmen menjadi keamanan pasien sebagai prioriotas utama dalam memberikan layanan. “Salah satu upaya menjaga keamanan adalah dengan menyediakan informasi mengenai obesitas melalui NovoCare.id, termasuk fitur penghitungan BMI dan pencarian bantuan dokter.” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














