kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Arsitek, profesi kelima terbanyak yang bunuh diri


Jumat, 15 Juli 2016 / 15:35 WIB

Arsitek, profesi kelima terbanyak yang bunuh diri

JAKARTA. Sebuah studi di AS melaporkan, arsitek adalah satu di antara beragam profesi yang paling mungkin untuk bunuh diri.

Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di negeri Paman Sam itu mengungkapkan, mereka yang bekerja di bidang arsitektur dan teknik merupakan yang paling mungkin untuk melakukan praktik bunuh diri peringkat kelima terbanyak, dibandingkan profesi lain.

Diterbitkan pekan lalu, data tersebut dikumpulkan dari koresponden di 17 negara bagian AS pada tahun 2012. Kode Kerja atau Occuupational Codes diterapkan pada 12.312 kasus bunuh diri dari ‎Sistem ‎Pelaporan‎ Kematian Berat Nasional.

Nilai untuk setiap profesi dihitung dengan jumlah kasus bunuh diri per 100.000 penduduk. Untuk arsitektur dan teknik, nilainya adalah 32,2.

Peternakan, perikanan, dan kehutanan berada di daftar paling atas, dengan nilai 84,5. Sektor pekerjaan lain di atas arsitektur adalah konstruksi dan ekstraksi; instalasi, pemeliharaan dan perbaikan; dan produksi.‎

Kelompok yang mencakup seni, desain, hiburan, olahraga dan media berada di peringkat ketujuh, dengan nilai 24,3.‎

Nilai terendah dari bunuh diri, yaitu 7,5, ditemukan pada kelompok pendidikan, pelatihan dan perpustakaan kerja.‎

Sekitar 40.000 kasus bunuh diri dilaporkan di AS selama 2012. Penyebab utama dari 10 daftar profesi tersebut berada di antara usia 16 tahun ke atas.

"Memahami bunuh diri pada kelompok kerja memberikan kesempatan untuk pencegahan, namun data tersebut belum dilaporkan baru-baru ini untuk populasi yang luas atau dilihat berdasarkan jenis kelamin dan klasifikasi pekerjaan," kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.

Laporan ini mengakui bahwa subyek temuan masih terbatas, seperti misalnya dalam kategorisasi kesalahan manusia dan komputer.

Namun, para peneliti berharap bahwa data yang akan datang, yang dikumpulkan tahun 2014 dari seluruh 32 negara bagiab, mungkin memberikan hasil yang lebih representatif dan memungkinkan mereka untuk memeriksa tren kerja dari waktu ke waktu.‎ (Penulis: Arimbi Ramadhiani)


Sumber : Kompas.com
Editor: Dikky Setiawan
Video Pilihan

TERBARU
Terpopuler
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0011 || diagnostic_api_kanan = 0.0484 || diagnostic_web = 0.2730

Close [X]
×