kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.924   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.242   -56,72   -0,90%
  • KOMPAS100 813   -5,85   -0,71%
  • LQ45 621   -2,15   -0,35%
  • ISSI 215   -3,31   -1,52%
  • IDX30 344   -1,09   -0,32%
  • IDXHIDIV20 429   0,02   0,00%
  • IDX80 93   -0,53   -0,57%
  • IDXV30 116   -0,90   -0,76%
  • IDXQ30 111   -0,10   -0,09%

Aspebindo: Proses Ubah Batubara Jadi Bensin Bukan Solusi Cepat Gantikan Impor


Minggu, 27 September 2026 / 19:33 WIB
Aspebindo: Proses Ubah Batubara Jadi Bensin Bukan Solusi Cepat Gantikan Impor
ILUSTRASI. PELNI Angkut 335.415 Metrik Ton Batubara ke PLTU pada Semester I-2026 (PELNI/dok)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo) menilai rencana pemerintah melakukan hilirisasi batubara menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) belum dapat dijadikan solusi cepat untuk mengurangi ketergantungan impor minyak seiring kebutuhan investasi yang besar.

Ketua Umum Aspebindo, Anggawira mengatakan bahwa secara teknologi, batubara dapat diolah menjadi bahan bakar cair atau coal to liquid. Namun, jalur proses hilirisaai yang panjang membuat investasi yang perlu disiapkan juga besar.

Di mana, lanjut Anggawira, batubara diubah menjadi gas sintesis, lalu diolah lagi menjadi produk cair yang harus memenuhi spesifikasi bahan bakar.

Baca Juga: Menakar Tantangan yang Timbul dalam Upaya Mengubah Batubara jadi Bensin

"Hasil prosesnya pun tidak otomatis seluruhnya berupa bensin. Karena itu, coal to liquid belum dapat disebut sebagai solusi cepat untuk menggantikan impor bensin," katanya kepada Kontan, Minggu (27/9/2026).

Karena itu, Aspebindo mendukung kajian dan penjajakan kerja sama, tetapi keputusan investasi harus menunggu studi kelayakan independen.

"Studi itu perlu menunjukkan biaya produksi per liter pada berbagai skenario harga minyak dan batubara, kebutuhan modal dan air, komposisi produk, kepastian pembeli, serta biaya pengendalian emisi," jelas Anggawira.

Aspebindo melihat, sebaiknya proyek dinaikkan dari tahap kajian hanya jika hasilnya tetap masuk akal pada skenario harga yang konservatif, bukan semata-mata saat harga minyak sedang tinggi.

Anggawira menegaskan bahwa sebuah proyek hilirisasi harus progresif dalam penguasaan teknologi dan penciptaan industri, sekaligus disiplin terhadap keekonomian. 

Baca Juga: Pasokan Batubara Terkendala, Industri Semen Hadapi Ancaman Produksi

"Proyek yang memperkuat ketahanan energi dan memberi nilai tambah nyata patut didorong," jelasnya.

Bagaimanapun, skala investasi proyek tersebut, lanjutnya, perlu mengikuti bukti keekonomian dan kesiapan pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×