kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.927   18,00   0,10%
  • IDX 5.943   17,05   0,29%
  • KOMPAS100 770   4,91   0,64%
  • LQ45 595   5,40   0,92%
  • ISSI 205   -0,19   -0,09%
  • IDX30 331   2,96   0,90%
  • IDXHIDIV20 424   2,54   0,60%
  • IDX80 88   0,63   0,72%
  • IDXV30 116   0,69   0,59%
  • IDXQ30 108   0,68   0,63%

Bahlil Dorong Hilirisasi, Ekspor Nikel Ditargetkan Tembus US$ 45 Miliar pada 2026


Rabu, 14 Oktober 2026 / 18:32 WIB
Bahlil Dorong Hilirisasi, Ekspor Nikel Ditargetkan Tembus US$ 45 Miliar pada 2026
ILUSTRASI. Pabrik pengolahan, PT International Nickel Indonesia Tbk, INCO, (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Genta Disa | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-TANGERANG. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan nilai ekspor mineral nikel mencapai US$ 45 miliar pada 2026 melalui penguatan hilirisasi.

Dalam sambutan pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Tangerang, Rabu (14/10/2026) Bahlil menyampaikan nilai ekspor mineral nikel meningkat dari US$ 3,3 miliar pada 2017–2018 menjadi US$ 34 miliar pada 2023. Pada 2025, nilainya disebut telah melampaui US$ 40 miliar.

“Ini baru satu komoditas. Banyak beberapa negara Eropa membawa kita ke WTO,” ujar Bahlil.

Menurutnya, peningkatan ekspor tersebut merupakan hasil kebijakan penghentian ekspor bijih nikel, yang diikuti pembangunan industri pengolahan dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik dari hulu hingga hilir.

Pemerintah akan memperluas hilirisasi ke sektor mineral dan batubara, minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan, serta pertanian. Peta jalan hilirisasi hingga 2040 ditargetkan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kami meyakinkan kepada Bapak-Ibu bahwa Indonesia ke depan tidak lagi menjadi negara yang hanya mengekspor bahan baku,” tegasnya.

Bahlil juga mendorong investor mengembangkan industri berbasis energi baru terbarukan (EBT). Menurut dia, meningkatnya permintaan terhadap produk berbasis energi bersih dan industri hijau dapat memperkuat daya saing ekspor Indonesia.

“Produk global sekarang itu akan lebih cenderung untuk mencari produk yang green energy dan green industry. Itu nilainya pasti jauh lebih tinggi ketimbang produk-produk yang dihasilkan daripada energi fosil,” ujar Bahlil.

Selain hilirisasi, pemerintah memperluas akses pasar melalui perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara di Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, dan Eropa Timur. Pemerintah juga mendorong penyederhanaan prosedur ekspor serta kemudahan pembiayaan, asuransi, dan promosi produk di pasar internasional.

Ia menyampaikan, perekonomian Indonesia tumbuh 5,45% pada semester I-2026. Neraca perdagangan Indonesia juga mencatat surplus US$ 7,25 miliar pada Januari–Agustus 2026, dengan nilai ekspor US$ 193,6 miliar atau tumbuh 4,74% secara tahunan.

Baca Juga: Astra Otoparts (AUTO) Jajaki Pasar Eropa dan Amerika Latin untuk Ekspor Aki

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×