Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai tidak hanya meningkatkan biaya impor dan kewajiban perusahaan dalam valuta asing (valas), namun biaya untuk melindungi perusahaan dari risiko perubahan kurs atau hedging juga ikut meningkat.
Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz kenaikan biaya hedging saat ini cukup signifikan. Namun, diskon yang diberikan Bank Indonesia (BI) masih mampu menahan sebagian kenaikan biaya tersebut.
“Untuk perusahaan yang harus membeli dolar sekaligus mengunci kurs ke depan, tekanan datang dari dua arah. Satu harga dolar lebih mahal, kedua biaya untuk mengamankan harga dolar tersebut juga meningkat,” ujar Faiz kepada Kontan, Rabu (12/8/2026).
Baca Juga: Keuntungan Sebagian Danantara Akan Masuk APBN, CELIOS Soroti Cash Flow Pemerintah
Sebagai gambaran, FX swap rate untuk tenor satu, tiga, enam, hingga 12 bulan meningkat dari sekitar 0,4%-0,7% pada Januari 2026 menjadi sekitar 2,5%-3% pada Juli 2026.
Menurut Faiz, besarnya dampak kenaikan biaya hedging terhadap biaya operasional perusahaan sangat bergantung pada struktur bisnis dan eksposur valuta asing masing-masing perusahaan.
Ia mencontohkan perusahaan dengan kebutuhan valuta asing sebesar US$ 100 juta. Jika biaya hedging secara tahunan (annualized) meningkat dari sekitar 0,5% menjadi 3%, secara sederhana terdapat tambahan biaya sekitar US$ 2,5 juta per tahun apabila eksposur tersebut terus diperpanjang (roll) dan seluruhnya dilindungi nilai.
“Karena itu dampaknya bisa material bagi perusahaan dengan margin tipis, terutama yang pendapatannya rupiah tetapi bahan baku atau kewajibannya dolar,” jelasnya.
Meski demikian, Faiz menilai kenaikan biaya hedging tidak serta-merta membuat perusahaan berhenti melakukan lindung nilai. Bagi perusahaan dengan kewajiban valuta asing yang besar, tidak melakukan hedging justru dapat meningkatkan risiko kerugian apabila rupiah kembali terdepresiasi.
“Respons yang lebih mungkin adalah perusahaan menurunkan hedge ratio, memperpendek tenor, melakukan hedging secara lebih selektif, atau meneruskan sebagian kenaikan biaya kepada konsumen,” katanya.
Di sisi lain, BI masih menyediakan instrumen swap dan memberikan insentif premi untuk mendorong penggunaan hedging. Menurut Faiz, hal tersebut menunjukkan bahwa menjaga kemampuan pelaku pasar dalam mengelola risiko valuta asing menjadi bagian penting dari upaya stabilisasi rupiah.
Baca Juga: Pemerintah Buka Peluang Liburkan Sekolah Imbas Karhutla
Lebih lanjut,k Faiz menilai, perusahaan yang paling rentan terhadap kenaikan biaya hedging adalah perusahaan dengan currency mismatch. Kondisi ini terjadi ketika mayoritas pendapatan perusahaan dalam rupiah, sementara biaya impor atau kewajibannya dalam dolar cukup besar dan tidak memiliki natural hedge dari penerimaan ekspor.
Sektor yang dapat terdampak antara lain manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor, farmasi, elektronik, transportasi dan aviasi, serta perusahaan dengan utang luar negeri yang tinggi.
Sebaliknya, eksportir berbasis komoditas relatif lebih terlindungi karena memiliki penerimaan dalam dolar yang dapat menjadi natural hedge terhadap kewajiban valas.
Lebih lanjut, kenaikan biaya hedging juga dapat memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian. Faiz melihat setidaknya terdapat tiga jalur transmisi, yakni inflasi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.
Pertama, tekanan inflasi dapat meningkat apabila kenaikan biaya impor dan hedging diteruskan perusahaan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual.
Kedua, investasi dapat tertekan karena hurdle rate proyek meningkat ketika kebutuhan barang modal impor dan pembiayaan dalam valuta asing menjadi lebih mahal.
Ketiga, pertumbuhan ekonomi dapat terdampak apabila perusahaan memilih menekan margin, menunda belanja modal (capital expenditure/capex), atau mengurangi impor.
“Jadi menurut saya isu utamanya bukan semata-mata swap rate naik dari 0,5% menjadi sekitar 3%. Yang lebih penting adalah ketika rupiah yang lemah, hedging yang mahal, dan biaya pendanaan yang tinggi terjadi bersamaan,” tutur Faiz.
Baca Juga: Prabowo Terima Wakil Menteri Perang AS, Perkuat Kemitraan Strategis RI-AS
Menurut dia, kombinasi tersebut memperbesar financial tightening bagi sektor riil. Apabila berlangsung cukup lama, tekanan nilai tukar tersebut dapat bergeser dari sekadar persoalan pasar keuangan menjadi tekanan terhadap harga, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
