Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mendorong hilirisasi industri rendah karbon untuk merealisasikan ekosistem energi hijau yang bersih dan bernilai tambah.
Sekretaris Utama Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Mohammad Rudy Salahuddin mengatakan, pemerintah menyiapkan langkah strategis menuju ekosistem industri yang efisien dan bernilai tambah melalui hilirisasi sumber daya alam.
"Hilirisasi ini dilakukan dengan masuk ke pengolahan dan pemurnian sumber daya alam, kemudian berkembang ke material dan komponen, hingga menghasilkan produk rendah karbon," jelas Rudy dalam Seminar Nasional Green Economy 2045 di Aryaduta Hotel Menteng, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Sebagai bagian dari agenda hilirisasi ini, BKPM disebut telah memetakan sebanyak 28 komoditas strategi di delapan sektor utama dengan potensi investasi US$ 618 miliar hingga 2040.
Baca Juga: Pasokan Batubara RI Melimpah, Berikut Proyek Hilirisasi yang Paling Realistis
Rudy menyebutkan hilirisasi rendah karbon dilakukan pemerintah dengan pendalaman rantai nilai komponen panel surya, biofuel, molekul bersih seperti sustainable aviation fuel (SAF) dan hidrogen, kendaraan listrik (EV), baterai, hingga Baterry Energy Storage System (BESS).
Pertumbuhan perdagangan EV dan baterai saat ini dinilai menjadi salah satu momentum positif untuk mendorong hilirisasi rendah karbon.
Di mana, Rudy memaparkan, data UN Comtrade Environmental Goods List mencatatkan perdagangan kendaraan listrik dan baterai meningkat dari US$ 90 miliar pada 2019 ke hampir US$ 450 pada tahun lalu.
Baca Juga: Bukan Sekedar Komoditas Mentah, Kelapa Indonesia Didorong Hilirisasi
"Perdagangan teknologi energi terbarukan juga naik dari sekitar US$ 210 miliar menjadi lebih dari US$ 350 miliar," lanjut dia.
Rudy optimistis bahwa Indonesia memiliki basis yang cukup kuat untuk masuk ke pasar tersebut, terutama jika melihat potensi energi terbarukan nasional yang mencapai 3.687 gigawatt (GW), dengan potensi tenaga surya menyumbang 3.294 GW.
Akan tetapi, Rudy melanjutkan, kapasitas energi baru terbarukan (EBT) yang sudah dimanfaatkan masih kurang dari 0,5% dari keseluruhan potensi tersebut, atau baru sekitar 16,3 GW.
"Ruang investasi, karena itu, masih sangat besar. Baik pada pembangkit, jaringan, penyimpanan energi, maupun industri pendukungnya," tandas dia.
Baca Juga: Tekanan Biaya dan Hilirisasi Meningkat, IEE Series 2026 Soroti Transformasi Industri
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














