kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.663.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.917   0,00   0,00%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Gendhis Multi Manis memangkas produksi


Rabu, 16 September 2015 / 11:10 WIB
Gendhis Multi Manis memangkas produksi


Reporter: Adisti Dini Indreswari | Editor: Havid Vebri

JAKARTA. Maraknya impor gula rafinasi memukul PT Gendhis Multi Manis (GMM). Pemilik pabrik gula (PG) di Blora Jawa Tengah ini memangkas target produksi tahun ini hingga separuhnya.

Kamadjaja, Direktur Utama GMM memproyeksikan produksi gula perusahaannya tahun ini paling tinggi hanya 20.000 ton. Padahal, semula GMM optimistis bisa memproduksi 40.000 ton tahun ini.

"Target produksi menurun karena banyak petani yang enggan menanam tebu akibat banyaknya gula rafinasi impor yang merembes ke pasar gula konsumsi," terang Kamadjaja kepada KONTAN, Selasa (15/9) kemarin.

Situasi pelik ini masih ditambah dengan ancaman kekeringan yang membuat hasil panen tebu makin minim. Alhasil, pemangkasan target produksi menjadi sangat realistis bagi GMM karena kekurangan bahan baku.

Prediksi Kamadjaja, panen tebu di seluruh Indonesia tahun ini melorot sekitar 20%. PG Blora sendiri membutuhkan 250.000 ton tebu untuk bisa memproduksi 20.000 ton gula dengan rendemen 8%.

Asal tahu saja, PG Blora baru mulai beroperasi penuh tahun ini. Pada saat uji coba tahun lalu, pabrik baru ini mampu memproduksi 3.000 ton gula, sedangkan pabrik ini sendiri memiliki kapasitas 6.000 ton dan bisa digenjot hingga 10.000 ton.

Akibat makin maraknya impor gula rafinasi ini, GMM juga menunda ekspansi perluasan lahan tebu milik mereka. Saat ini, perusahaan menguasai 50 hektare (ha) lahan inti dan 4.000 ha lahan plasma yang tersebar di Blora dan wilayah sekitarnya, seperti Rembang, Pati, Kudus, dan Grobogan.

Atas kondisi ini, Kamadjaja mendesak pemerintah untuk memperbaiki tata niaga gula. Pasalnya, dia menilai kuota impor gula rafinasi terlalu besar sehingga ada kecenderungan merembes ke pasar gula konsumsi. "Kebijakan pemerintah saat ini lebih berpihak pada impor daripada industri gula dalam negeri," ujar Kamadjaja.

Dia juga menilai kebijakan pemerintah terlihat tidak pro pada industri gula tanah air. Pertama, tidak ada insentif untuk lahan tebu. Kedua, pabrik gula tidak boleh mengimpor gula mentah atau raw sugar sebagai bahan baku. Ketiga, impor gula rafinasi bebas bea masuk.

Seperti diketahui, produksi gula konsumsi nasional tiap tahun hanya mencapai 2,6 juta ton sedangkan impor gula mentah dan gula rafinasi untuk kebutuhan sektor industri seperti makanan minuman mencapai 3 juta ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×