Reporter: Hervin Jumar | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga beras yang terus naik hingga September 2026 menjadi perhatian pemerintah. Perum Bulog menilai, kenaikan harga beras dipengaruhi oleh belum masuknya musim panen serta tingginya harga gabah di sejumlah daerah yang turut mendongkrak biaya produksi beras.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi beras pada September 2026 mencapai 3,73%, meningkat dibandingkan Agustus 2026 yang sebesar 2,77%.
Direktur Utama Bulog Rizal Ramdhani, mengatakan kenaikan harga beras pada September hingga Oktober merupakan kondisi yang lazim terjadi karena periode tersebut bukan merupakan musim panen.
Baca Juga: Modernland Realty (MDLN) Tuntaskan Obligasi US$ 280 Juta Lewat Solusi Tukar Lahan
Meski demikian, ia menilai kenaikan harga beras belum terlalu signifikan.
Menurut Rizal, kenaikan harga yang tercatat dalam data BPS terutama terjadi pada beras premium. Sementara itu, penugasan utama Bulog dari pemerintah lebih berfokus pada pengelolaan beras medium.
“Berdasarkan data BPS itu, yang naik rata-rata adalah beras premium. Sedangkan kalau beras medium, Bulog secara besar itu mengelola beras medium,” ujar Rizal dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (9/10/2026).
Rizal menjelaskan untuk merespons kenaikan harga beras premium, Bulog mendapat arahan dari Menteri Pertanian untuk memproduksi 300.000 ton beras komersial atau premium hingga Desember 2026. Hingga 9 Oktober 2026, realisasi produksinya baru mencapai sekitar 71.000 ton hingga 72.000 ton.
Bulog menggandeng mitra di berbagai daerah untuk mengolah gabah menjadi beras premium.
Produk tersebut selanjutnya didistribusikan melalui pasar yang terpantau dalam Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) serta jaringan ritel modern.
Baca Juga: Ekspor CPO Diproyeksi Turun Jadi 26,5 Juta Ton pada 2027, Tertekan B50 dan El Nino
Selain faktor musim, Rizal menyebut tingginya harga gabah di tingkat petani turut menekan biaya produksi. Di sejumlah wilayah, harga gabah dilaporkan telah melampaui Rp 7.000 per kilogram, bahkan mencapai Rp 8.000 hingga Rp 9.000 per kilogram.
Harga tersebut berada di atas harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) sebesar Rp 6.500 per kilogram dalam skema penugasan pemerintah kepada Bulog. Kenaikan harga bahan baku itu berimbas pada biaya pengolahan gabah menjadi beras.
“Kalau harga pembeliannya sudah tinggi, maka pengolahan gabahnya menjadi beras juga akan meningkat,” jelas Rizal.
Bulog berharap tambahan pasokan beras premium melalui program produksi komersial tersebut dapat membantu menahan kenaikan harga di pasar.
Namun, realisasi produksi dan efektivitas distribusi menjadi faktor penting untuk memastikan tambahan pasokan dapat menjangkau konsumen hingga akhir tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














