kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45927,64   6,18   0.67%
  • EMAS1.325.000 -1,34%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga CPO Loyo, Sampoerna Agro (SGRO) Targetkan Produksi TBS Naik di Atas 5%


Senin, 22 Mei 2023 / 20:36 WIB
Harga CPO Loyo, Sampoerna Agro (SGRO) Targetkan Produksi TBS Naik di Atas 5%
ILUSTRASI. Gelar RUPSLB, SGRO Setujui Pengunduran Diri Direktur Utama


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak kelapa sawit crude palm oil (CPO) tengah mengalami tren penurunan. Melansir Trading Economics, Senin (22/5) pukul 17.03 WIB, harga CPO hari ini turun 1,52% ke MYR 3.428 per ton. Dalam sebulan, harga CPO sudah turun 6,27% dan anjlok 45,58% selama setahun terakhir.

Head of Investor Relation PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO)  Stefanus Darmagiri mengatakan, harga jual CPO yang dipengaruhi oleh mekanisme pasar dan fluktuatif harga memiliki dampak terhadap kinerja SGRO.

Sebagai informasi, SGRO pada kuartal I mencatatkan peningkatan pendapatan ke Rp 1,40 triliun dari Rp 1,25 triliun di periode yang sama sebelumnya di tahun 2022. Namun, laba SGRO hanya sebesar Rp 71,2 miliar, turun dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 249,2 miliar.

Hal itu salah satunya disebabkan oleh meningkatnya beban pokok penjualan dan pendapatan menjadi Rp 1,16 triliun. Pada kuartal I 2022, beban pokok penjualan dan pendapatan SGRO hanya Rp 806,5 miliar.

Baca Juga: Andalkan Nikel, Bintang Samudera (BSML) Yakin Raih Peningkatan Kinerja di Tahun 2023

“Fluktuasi harga CPO yang terjadi pada semester II 2022 menyebabkan harga rata-rata (average selling price/ASP) minyak kelapa sawit juga mengalami penurunan pada kuartal I 2023, sehingga laba SGRO turun di kuartal I 2023,” ujarnya kepada Kontan, Senin (22/5).

Adapun strategi usaha yang dilakukan oleh SGRO di tahun 2023 adalah tetap fokus kepada program intensifikasi guna meningkatkan produktivitas, seperti mekanisasi, water management system, dan perbaikan infrastruktur serta digitalisasi.

“Di samping itu, kami juga tetap fokus guna memperkuat neraca keuangan Perseroan,” katanya.

Walaupun demikian, Stefanus menuturkan, pihaknya melihat prospek bisnis CPO di tahun 2023 masih akan ditopang oleh implementasi B35 Indonesia yang telah dimulai pada bulan Februari 2023.

“Kebijakan B35 diharapkan dapat meningkatkan permintaan minyak kelapa sawit di Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, SGRO akan mengikuti dan patuh terhadap peraturan terkait rencana dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) yang mewajibkan ekspor CPO melalui bursa berjangka.

“Namun, SGRO tidak punya rencana untuk melakukan ekspor CPO pada saat ini,” tuturnya.

Baca Juga: Utama Radar Cahaya (RCCC) Bidik Laba Bersih Tumbuh 29% di 2023

Stefanus mengatakan, proyeksi pertumbuhan laba dan pendapatan pada 2023 sangat ditentukan oleh harga jual CPO, di mana saat ini sangat bergantung mekanisme pasar dan fluktuatif harga.

Namun, dengan kondisi curah hujan yang sangat baik dalam 2 tahun terakhir ini, SGRO melihat bahwa produksi tahun ini akan lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Di tahun 2023, kami menargetkan pertumbuhan produksi Tandan Buah Segar (TBS) sebesar 5% – 10% YoY dibandingkan dengan pencapaian tahun sebelumnya,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×