kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.879   -56,00   -0,31%
  • IDX 5.839   -57,18   -0,97%
  • KOMPAS100 757   -7,86   -1,03%
  • LQ45 577   -6,86   -1,18%
  • ISSI 202   -0,82   -0,40%
  • IDX30 327   -3,92   -1,18%
  • IDXHIDIV20 403   -4,85   -1,19%
  • IDX80 86   -0,89   -1,02%
  • IDXV30 109   -0,80   -0,73%
  • IDXQ30 105   -1,27   -1,19%

Harga garam lokal hambar diredam produk impor


Kamis, 12 Juli 2012 / 20:17 WIB
ILUSTRASI. Layanan nasabah Tugu Insurance.


Reporter: Muhammad Yazid |

BANGKALAN. Tidak ada garam, dunia terasa hambar. Namun, harga garam di kalangan petani lokal justru hambar atau seasin rasa garam tersebut. Maraknya peredaran harga garam impor di kalangan petani membuat harga garam lokal jatuh.

Di Jawa Timur dan Jawa Tengah misalnya, harga garam di tingkat petani mencapai Rp 300 hingga Rp 350 per kilo gram (kg). Padahal berdasarkan ketetapan pemerintah, harga garam di tingkat petani minimal Rp 750 per kg untuk kualitas nomor satu, dan Rp 550 per kg untuk kualitas di bawahnya.

Rokib Ismal, salah seorang petani garam asal Pati Jawa Tengah mengatakan, selama ini produktivitas petani garam lokal masih rendah dibandingkan produksi garam dari luar negeri. Hal tersebut tentunya membuat biaya produksi para petani lokal melambung tinggi. "Harga garam impor jauh lebih murah dibandingkan garam lokal, padahal kualitas yang dihasilkan sama," kata dia, Rabu (11/7).

Sejauh ini, garam lokal masih diolah secara sederhana, sehingga sulit mencapai produksi tinggi. Ia mencontohkan, dalam mengelola lahan seluas 4 ha, dirinya hanya mengandalkan musim kemarau. Menurutnya, petani sulit memperoleh modal usaha, sementara bantuan pemberdayaan petani dari pemerintah tidak merata diperoleh petani.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×