kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45889,80   -6,05   -0.68%
  • EMAS1.327.000 0,15%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga kopi mulai terasa pahit


Jumat, 09 Desember 2016 / 11:10 WIB
Harga kopi mulai terasa pahit


Reporter: Tri Sulistiowati | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Harga kopi dalam beberapa pekan terakhir terus merosot. Padahal, selama beberapa bulan terakhir, harga komoditas tersebut bertahan di level tinggi.

Berdasarkan pengamatan KONTAN, harga kopi yang diperdagangkan di ICE Futures Exchange Amerika Serikat (AS) pada 7 Desember 2016 ditutup pada level US$ 1,41 per kilogram (kg). Padahal, harga kopi dunia sempat menyentuh level US$ 1,77 per kg pada penutupan perdagangan tanggal 7 November 2016 lalu yang merupakan harga tertinggi sepanjang tahun ini.

Dari gambaran tersebut, harga kopi dunia telah melorot sebesar 20,33% dalam waktu sebulan.

Banyak faktor yang membuat harga kopi anjlok dalam waktu sebulan terakhir. Pertama, kenaikan nilai mata uang dollar AS terhadap mata uang lain dunia pasca Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS memicu pedagang kopi dunia melepas stok mereka. Apalagi, kenaikan nilai tukar didukung oleh harga kopi yang tinggi.

Dengan kondisi ini dapat ditebak bahwa harga kopi global segera melandai karena seketika pasokan kopi menjadi melimpah.

Kedua, harga kopi semakin jatuh dengan fakta bahwa negara produsen kopi utama dunia seperti Brasil, Vietnam, dan Indonesia memasuki musim hujan. Artinya,  pasokan kopi ke depan bakal tetap terpenuhi karena tidak akan ada cerita kekeringan seperti terjadi akhir tahun lalu hingga awal tahun ini yang mengganggu produksi.

Moenardji Soedargo, Penasehat Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) menilai, potensi ekspor kopi masih menjanjikan meskipun harga kopi dunia dalam tren menurun. "Harga turun, tapi tidak ada tren penurunan permintaan di pasar internasional," ujarnya kepada KONTAN, Kamis (8/12).

Hanya saja, potensi pasar internasional ini tidak bisa dimanfaatkan dengan maksimal oleh eksportir kopi Indonesia karena kinerja ekspor kopi dalam negeri yang masih memble akibat minimnya produksi kopi tahun ini.

Daya pikat pasar lokal

Sekedar informasi, tahun ini, produksi kopi diprediksi hanya mencapai 500,000 ton atau jauh dari produksi tahun lalu yang mencapai 660.000 ton. Anjloknya produksi ini karena tanaman kopi banyak yang gagal panen tahun 2015 lalu akibat kekeringan. Disamping itu, sebagian besar pohon kopi petani saat ini sudah uzur, sehingga tidak lagi produktif.

Moenardji melanjutkan bahwa tak maksimalnya eksportir kopi menggarap pasar ekspor di saat harga sedang tinggi juga karena permintaan kopi di pasar lokal juga cukup memikat. Apalagi harga kopi lokal di pasar domestik relatif stabil meski harus bersaing dengan kopi olahan impor.

Umumnya kopi lokal yang mampu berbicara banyak di pasar domestik adalah specialty coffee alias kopi yang sudah diolah dan memiliki cita rasa tinggi. 

Sebelumnya, Wiliem Petrus Rivu, Direktur Minuman, Tembakau, dan Bahan Penyegar Ditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemperin) menyebut, yang terjadi dalam distribusi kopi Indonesia terbalik. Pasar ekspor masih dipenuhi dipenuhi oleh biji kopi, sedangkan produk kopi di pasar domestik telah berbentuk olahan.

Padahal, seharusnya kopi olahan menjadi senjata Indonesia untuk memenangi pasar ekspor kopi menghadapi persaingan dengan negara lain. Makanya, ia meminta agar kopi produksi petani dalam bentuk biji tak langsung dijajakan di pasar ekspor, melainkan diproses dan diolah sehingga punya nilai tambah.

Salah satu upaya yang akan ditempuh Kemperin adalah dengan menghadirkan ahli pengolahan kopi untuk membantu petani kopi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×