Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pendidikan menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan. Sebanyak 91% pelajar Indonesia khawatir teknologi AI membuat mereka mampu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, tetapi tidak memahami materi secara mendalam.
Temuan tersebut tercantum dalam laporan HP Futures 2026 yang melibatkan 6.000 pelajar dari berbagai negara, termasuk 2.097 pelajar Indonesia, serta 58 pemimpin di bidang pendidikan, kebijakan publik, dan masa depan dunia kerja. Persentase pelajar Indonesia yang mengkhawatirkan dampak tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan negara lain yang disurvei.
Laporan yang disusun HP bersama Global Learning Council dan Education Leaders Forum ini menyoroti perlunya penyesuaian sistem pendidikan untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan kebutuhan keterampilan di dunia kerja seiring perkembangan teknologi AI.
Di tengah meningkatnya pemanfaatan AI, pelajar Indonesia ternyata masih mengandalkan metode konvensional untuk memahami dan mengingat materi pelajaran. Sebanyak 52% responden memilih metode belajar yang melibatkan materi cetak atau tulisan tangan. Sementara itu, hanya 17% yang menjadikan ringkasan berbasis AI sebagai metode utama.
Baca Juga: NVIDIA Dorong Mahasiswa Beralih dari Pengguna Menjadi Pengembang Kecerdasan Buatan
Chief Commercial Officer HP sekaligus Ketua HP Futures David McQuarrie mengatakan, dunia pendidikan, pembuat kebijakan, dan pelaku usaha memiliki tanggung jawab bersama untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan cara belajar dan bekerja akibat perkembangan AI.
“Sistem pendidikan perlu berbuat lebih banyak untuk membantu pelajar mengembangkan, menunjukkan, dan terus mengasah kemampuan yang tetap bernilai, apa pun arah perkembangan teknologi,” ujar David dalam laporan HP Futures 2026, Selasa (20/10).
Meski mengkhawatirkan dampak AI terhadap kedalaman pemahaman materi, pelajar Indonesia tetap optimistis terhadap prospek pekerjaan di masa depan. Sebanyak 67% responden meyakini AI akan menciptakan lebih banyak peluang karier dibandingkan pekerjaan yang hilang akibat teknologi tersebut.
Selain itu, 84% pelajar Indonesia yakin dapat menggunakan perangkat AI secara efektif dan bertanggung jawab dalam karier mereka kelak. Sebanyak 88% responden juga menilai pendidikan yang mereka terima telah mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja.
Laporan tersebut turut mengungkap perubahan pandangan pelajar terhadap keterampilan yang dibutuhkan di pasar kerja masa depan. Kreativitas menjadi keterampilan yang paling banyak dipilih, yakni 67%, diikuti kemampuan berpikir kritis sebesar 63%, serta komunikasi dan kolaborasi sebesar 58%.
Adapun literasi AI dan digital berada di peringkat kelima dengan persentase 40%. Temuan ini menunjukkan bahwa pelajar menempatkan keterampilan dasar yang dapat diterapkan lintas pekerjaan sebagai prioritas, di atas sejumlah keterampilan teknis.
Baca Juga: Investasi AI Terancam Tak Optimal, Perusahaan Perlu Benahi Tata Kelola Data
Director & Global Head Education Business and Strategy HP, Mayank Dhingra mengatakan, perspektif pelajar perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan arah kurikulum dan model penilaian pendidikan di tengah perkembangan AI.
Menurut dia, pelajar Indonesia merasa terbantu oleh AI untuk bekerja lebih cepat dan cukup percaya diri menggunakan teknologi tersebut. Namun, mereka juga mengkhawatirkan pemahaman materi yang tidak mendalam akibat penggunaannya.
Karena itu, laporan HP Futures 2026 merekomendasikan agar literasi, numerasi, serta pembelajaran yang membantu membentuk identitas siswa tetap menjadi fondasi pendidikan. Pemanfaatan AI perlu diimbangi dengan pendekatan kreatif dan praktik langsung agar siswa tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga menguasai materi yang dipelajari.
Laporan tersebut juga mendorong pemerintah dan pembuat kebijakan memasukkan keterampilan seperti kreativitas, berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi ke dalam inti kurikulum, bukan sekadar sebagai kegiatan tambahan atau ekstrakurikuler.
Di sisi lain, dukungan terhadap tenaga pendidik dinilai tetap penting untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan tersebut. Dengan demikian, penggunaan AI dalam pendidikan tidak hanya berorientasi pada efisiensi penyelesaian tugas, tetapi juga pada pembentukan kemampuan berpikir dan kesiapan generasi muda menghadapi kebutuhan dunia kerja.
Baca Juga: AI Ubah Peta Lapangan Kerja, Pendidikan Vokasi Masih Punya Prospek
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













