Reporter: Hervin Jumar | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transformasi digital global mendorong industri satelit memasuki babak baru yang semakin strategis dalam menopang konektivitas, ketahanan jaringan, hingga kedaulatan digital suatu negara.
Di tengah perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI), cloud, internet of things (IoT), dan integrasi jaringan satelit-terestrial, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat perannya sebagai salah satu ekosistem satelit utama di kawasan Asia Pasifik.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan satelit masih menjadi infrastruktur kunci dalam menjaga konektivitas nasional di tengah tekanan geopolitik global, disrupsi teknologi low earth orbit (LEO), serta meningkatnya risiko bencana alam di Indonesia.
Sekretaris Jenderal Komdigi, Ismail mengatakan, perubahan lanskap industri satelit global, termasuk persaingan dengan teknologi jaringan darat dan LEO, tidak mengurangi urgensi peran satelit bagi Indonesia.
Menurutnya, karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan sekaligus wilayah cincin api membuat konektivitas berbasis satelit tetap menjadi kebutuhan utama untuk menjangkau seluruh wilayah.
“Ketika kita membangun layanan satelit, ini bukan hanya soal konektivitas. Kita berbicara tentang inklusivitas, bagaimana seluruh masyarakat dapat terhubung secepat mungkin,” ujar Ismail dalam acara Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT) 2026 di Jakarta, Selasa (12/5).
Melalui APSAT 2026, Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menghadirkan forum kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan pemerintah, regulator, pelaku industri, akademisi, dan mitra internasional guna membahas arah masa depan industri satelit nasional dan regional.
Konferensi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi dalam pengembangan teknologi, riset, regulasi, investasi, serta pembangunan kapasitas nasional yang berkelanjutan.
Ketua Umum ASSI periode 2026–2029, Risdianto Yuli Hermansyah mengatakan, industri satelit kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai pelengkap infrastruktur terestrial, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan dan keberlanjutan layanan digital nasional.
Baca Juga: Bisnis Satelit RI Masuk Fase Disrupsi, APJII: Operator Harus Adaptasi atau Tertinggal
“Industri satelit terus berkembang seiring kebutuhan konektivitas yang semakin beragam. Saat ini, peran satelit tidak hanya melengkapi infrastruktur terestrial, tetapi juga turut mendukung ketahanan jaringan dan keberlanjutan layanan digital nasional secara lebih luas,” ujar Risdianto.
Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan populasi lebih dari 270 juta jiwa, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam pengembangan industri satelit kawasan.
Menurut Risdianto, Indonesia memiliki modal kuat berupa kebutuhan pasar yang besar, pengalaman industri, sumber daya manusia, serta potensi pengembangan teknologi dan riset nasional.
Potensi tersebut dinilai sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, terutama dalam mendukung konektivitas wilayah 3T, ketahanan nasional, mitigasi bencana, dan pertumbuhan ekonomi digital.
\Indonesia memiliki modal yang cukup baik, mulai dari kebutuhan pasar, sumber daya manusia, hingga pengalaman pelaku industri. "Tugas kita bersama adalah bagaimana mengintegrasikan industri, riset, talenta, dan kebijakan dalam satu strategi yang berkelanjutan,” katanya.
ASSI menekankan bahwa pengembangan industri satelit membutuhkan sinergi jangka panjang antara pemerintah, regulator, industri, akademisi, lembaga riset, dan mitra internasional.
Kehadiran BRIN, Komdigi, dan BPKN dalam APSAT 2026 disebut mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari penguatan riset dan inovasi, harmonisasi regulasi, hingga perlindungan konsumen layanan berbasis satelit.
“Yang dibutuhkan adalah ruang dialog yang konstruktif, agar arah pengembangan industri satelit nasional dapat berjalan selaras dengan kebijakan publik, kebutuhan pasar, dan perkembangan teknologi global,” ungkap Risdianto.
Di sisi lain, industri satelit global juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti perkembangan konstelasi satelit yang semakin kompleks, konvergensi jaringan satelit dan terestrial, keamanan siber, keberlanjutan pemanfaatan ruang angkasa, hingga isu kedaulatan digital di tengah dinamika geopolitik global.
ASSI menilai, Indonesia perlu memperkuat kapasitas nasional dari sisi teknologi, regulasi, dan sumber daya manusia. Tujuannya agar industri satelit dapat tumbuh sehat dan berkelanjutan. Integrasi AI, cloud, IoT, fixed broadband, jaringan seluler, dan satelit juga diperkirakan akan semakin kuat dalam membentuk ekosistem digital masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













