kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Janu Putra Sejahtera (AYAM) Incar Laba Bersih Tumbuh Hingga 8% di 2026


Senin, 23 Maret 2026 / 15:44 WIB
Janu Putra Sejahtera (AYAM) Incar Laba Bersih Tumbuh Hingga 8% di 2026
ILUSTRASI. Janu Putra Sejahtera (AYAM) menargetkan laba bersih tumbuh 6%-8% pada 2026


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten unggas, PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) menargetkan pertumbuhan laba bersih pada tahun buku 2026 bisa mencapai 6%–8% dibandingkan tahun sebelumnya.   

Direktur Utama Janu Putra Sejahtera Sri Mulyani menuturkan segmen Parent Stock (DOC) diperkirakan akan menjadi kontributor terbesar atas laba bersih di 2026. 

“Seiring dengan kesiapan aset biologis dan potensi harga sekitar Rp 7.000 per DOC–Rp 7.500 per DOC dengan HPP sekitar Rp 4.600–Rp 6.00,” tulisnya dalam keterbukaan informasi yang dirilis 17 Maret 2026.  

Selain itu, Sri bilang, AYAM juga mulai mendorong kontribusi dari RPA (Rumah Potong Ayam) sebagai sumber profit baru, dengan target peningkatan kontribusi dalam beberapa tahun ke depan. 

Baca Juga: Arus Balik Lebaran, KAI: Kursi Kereta Api Jarak Jauh Masih Tersedia Puluhan Ribu

"Segmen layer juga dipandang memiliki potensi profit yang stabil dalam jangka panjang,” ucapnya. 

Pada 2026, AYAM memperoleh kuota Grand Parent Stock sebesar 20.000–Rp 25.000. Sri bilang angka tersebut mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, seiring dengan kapasitas AYAM. 

“Setiap peningkatan kuota di masa depan akan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, khususnya kandang,” kata Sri. 

Ke depannya, Sri bilang pihaknya akan mengedepankan pendekatan kerja sama dibandingkan ekspansi modal besar secara langsung untuk menjaga likuiditas dan efisiensi penggunaan modal. 

 

“Oleh karena itu, tidak terdapat rencana immediate untuk penambahan modal melalui penerbitan saham baru, dan investasi akan dilakukan secara selektif serta kolaboratif,” tuturnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×