kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45987,02   -0,88   -0.09%
  • EMAS1.164.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kehadiran Kantor Hybrid Buka Celah Hacker Curi Data Perusahaan


Senin, 28 Februari 2022 / 16:25 WIB
Kehadiran Kantor Hybrid Buka Celah Hacker Curi Data Perusahaan


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di era serba digital, terlebih dengan budaya kerja yang berjalan dengan cara hybrid, penting untuk organisasi maupun individu agar aware dengan kejahatan siber yang mengintai.

Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), terdapat lebih dari 1,6 miliar anomali trafik yang terlacak sepanjang tahun 2021 dimana tiga trebesar terjadi di situs pendidikan, situs swasta, dan situs milik pemerintah daerah.

Dengan meningkatkan kewaspadaan dan rasa tanggung jawab terhadap data-data yang ada, hal tersebut dapat diminimalisir.

Baca Juga: Telkomsel Umumkan 12 Startup Terbaik The NextDev Talent Scouting 2021

Head of Governance Risk Control & Technology Consulting RSM Indonesia Angela Simatupang mengungkapkan, budaya cybersecurity menjadi penting karena ini, pelaku kejahatan siber memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertindak dengan adanya hybrid office seperti sekarang ini,

"Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keamanan siber, antara lain dengan perilaku seluruh insan organisasi yang sadar akan proteksi data, konsistensi dari komunikasi internal terkait keamanan data dan teknologi, program yang terencana dan terimplementasi yang baik untuk membangun budaya sadar keamanan siber," kata Angela dalam keterangannya, Senin (28/2).

Perangkat dan aplikasi yang umum digunakan seperti Microsoft, Facebook, Twitter, Canva, dan banyak lainnya tidak luput dari serangan breaches dan hacking.

Menurut pantauan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sepanjang tahun 2021, dari anomali trafik yang terdeteksi, terdapat 1,6 miliar pergerakan anomali di dunia siber yang terdeteksi dan 7,9 juta berasal dari pergerakan malware dan 5,4 juta dari phising.

Technology Risk Consulting Partner RSM Indonesia Ponda S. Hidajat mengatakan, data terbaru menunjukkan sebanyak lebih dari 4000 pengguna data di sektor pemerintahan telah terinfeksi oleh malware.

Dengan kondisi ini kita harus lebih peduli dengan keamanan sistem yang kita gunakan dan disarankan mengganti password akun yang dimiliki secara berkala guna menghindari information phishing dan hacking.

Baca Juga: Tips dan Cara Menjual NFT untuk Pemula Agar Tidak Diblokir Seperti ASIX

Berdasarkan survei yang diadakan oleh RSM Indonesia dalam special report: ‘Emerging Threats in Cybersecurity’, sebanyak 36% responden berpendapat protokol keamanan siber harus diperbarui dan 22% lainnya berpendapat kebijakan privasi juga harus diperbarui secara berkala.

Sebanyak 46% gangguan di tahap operasional diperkirakan sebagai bentuk gangguan paling parah di dunia siber, dan 29% beranggapan bahwa kerugian finansial merupakan kerugian terbesar yang dapat dialami organisasi.

Menurut survei tersebut , 59% responden percaya dengan keamanan data organisasi mereka dan 83% menyatakan bahwa keamanan siber telah menjadi prioritas di organisasi mereka. 70% responden melihat ancaman terbesar berasal dari pihak eksternal seperti hacker dan pelaku kejahatan siber.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×