Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kekayaan Low Tuck Kwong, pendiri sekaligus pemegang saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), merosot US$ 5,78 miliar atau setara 33,9% dalam sehari setelah ia dan putrinya, Elaine Low, melepas sebagian kepemilikan saham di perusahaan tambang batubara tersebut.
Berdasarkan Bloomberg Billionaires Index, penurunan itu menjadi kerugian kekayaan harian terbesar yang pernah dialami Low sekaligus penurunan terdalam di antara miliarder dunia yang tercatat dalam indeks tersebut pada Senin (12/10/2026).
Kekayaan bersih taipan kelahiran Singapura itu diperkirakan tersisa US$ 11,3 miliar, atau telah menyusut lebih dari separuh sejak awal tahun.
Penurunan tersebut terjadi setelah Low dan Elaine merampungkan penjualan 30,25% saham BYAN kepada Jhonlin Baratama pada 7 Oktober 2026.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Bayan menyatakan transaksi tersebut telah selesai dilakukan.
Baca Juga: Harta Low Tuck Kwong Menguap Rp42 Triliun dalam Sehari, Terbesar di Dunia
Setelah transaksi, kepemilikan saham Low di Bayan menyusut dari 40,15% menjadi 9,95%. Sementara itu, kepemilikan Elaine turun dari 22,1% menjadi 22,05%.
Kesepakatan awal transaksi tersebut dilakukan pada September dengan porsi saham yang dijual sebesar 30%. Namun, porsi itu kemudian direvisi menjadi 30,25% pada awal Oktober, sebagaimana dilaporkan platform data keuangan IDN Financials.
Jhonlin Baratama merupakan kendaraan investasi milik pengusaha Indonesia Andi Syamsuddin Arsyad, yang dikenal sebagai Haji Isam.
Bloomberg Billionaires Index masih memperhitungkan sisa kepemilikan saham Low dan putrinya di Bayan, berikut aset bisnis lain dan kas, dalam estimasi kekayaannya.
Indeks tersebut mengatribusikan saham milik keluarga kepada Low karena ia merupakan pendiri perusahaan.
Penjualan saham mengubah komposisi kepemilikan Low di BYAN sekaligus menekan estimasi kekayaannya secara signifikan.
Baca Juga: Low Tuck Kwong dan Putrinya Teken Perjanjian Jual Beli Saham BYAN ke Jhonlin Baratama
Bayan Resources merupakan salah satu produsen batubara termal terbesar di Indonesia.
Berdasarkan laporan The Business Times, perusahaan membukukan laba bersih US$ 943 juta dari pendapatan US$ 3,43 miliar pada tahun lalu, dengan produksi batubara sekitar 68 juta ton.
Low mendirikan Bayan pada 2004. Ia lahir di Singapura sebelum pindah ke Indonesia dan kemudian menjadi warga negara Indonesia.
Di sisi operasional, Bayan dan tiga anak usahanya sempat menyatakan keadaan kahar atau force majeure atas kewajiban pasokan batubara pada bulan sebelumnya.
Baca Juga: Selain Transaksi Jumbo BYAN Rp 26,1 T, Low Tuck Kwong Juga Lepas 33,3 Juta Saham
Langkah itu diambil setelah revisi kuota produksi tambang mereka belum disetujui pemerintah Indonesia, menurut laporan Reuters.
Pemerintah kemudian menyetujui revisi kuota tersebut sehingga Bayan mencabut deklarasi force majeure.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














