kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Kondisi Pantai Gading membaik, bea keluar kakao turun menjadi 10%


Jumat, 22 April 2011 / 11:08 WIB
ILUSTRASI. Stan Bank Ina Perdana alias Bank Ina saat pameran pasar keuangan rakyat di Jakarta (21/12). KONTAN/Daniel Prabowo/21/12/2014


Reporter: Evilin Falanta | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Kementerian Perdagangan menetapkan bea keluar kakao untuk periode bulan Mei 2011 sebesar 10%. Besaran tersebut lebih rendah dari bulan sebelumnya yang ditetapkan 15%. Sementara itu, harga patokan ekspor (HPE) kakao menjadi US$ 3.088,20 per metrik ton atau turun 12% dari HPE bulan April sebesar US$ 3.515,11 per metrik ton.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhefi Sikumbang, turunnya harga disebabkan oleh kondisi politik Pantai Gading yang sudah mulai membaik. "Kalau kita lihat, presiden yang lama di negara tersebut sudah turun sehingga kondisi politik disana juga kembali normal. Tentu, ekspor dari sana sudah diizinkan dan mulai berjalan lagi," jelasnya.

Sayangnya, meski bea keluar sudah kembali menjadi 10%, namun para eksportir kakao pesimis kalau tingkat ekspor bakal meningkat di bulan Mei nanti. "Sebab, kondisi cuaca masih belum mendukung dan curah hujan masih deras sehingga produksi masih belum meningkat sejak awal tahun ini," ujarnya.

Catatan saja, tahun 2010 produksi kakao nasional hanya mencapai 500.000 ton hingga 600.000 ton. Dan tahun 2011 Askindo memprediksi produksi kakao akan turun menjadi 500.000 ton saja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×