Reporter: Nurmayanti | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Dampak krisis global baru dirasakan produsen sepatu pada tahun ini. Tak ayal, sekitar 25 investor sepatu, baik dari dalam maupun luar negeri, memutuskan untuk menunda rencana ekspansi mereka. Dikabarkan, nilai investasi yang tertunda itu totalnya mencapai US$ 700 juta.
Para investor mengaku, akan melanjutkan niatan ekspansi hingga kondisi perekonomian membaik."Mereka pada saat ini hold dulu. Kalaupun ada yang tetap jalan mendirikan pabrik, pelaksanaannya pelan-pelan tidak seperti rencana semula. Bahkan kemungkinan ada yang batal juga," kata Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko, Rabu (21/1).
Ternyata, dari total 120 perusahaan sepatu, ada juga yang berminat berinvestasi sekitar Rp 5 miliar per perusahaan. Namun, mereka sulit merealisasikannya lantaran kesulitan arus kas. Ditambah lagi, pengusaha harus membeli bahan baku secara tunai. Demikian pula dengan penerbitan surat jaminan kredit (letter of credit atau L/C) untuk ekspor yang harus dibayar penuh. Kondisi ini membuat perusahaan sepatu lokal kebingungan.
Tak terhenti di situ, pengusaha juga mengkhawatirkan penurunan order ekspor pada kuartal kedua 2009. Untuk awal tahun ini, mereka baru mendapatkan pesanan untuk tiga bulan ke depan saja. Sementara untuk selanjutnya, pembeli dari Amerika misalnya, meminta penundaan pesanan hingga Presiden Amerika Terpilih Barack Obama menggelontorkan stimulus bagi negaranya.
Penurunan ekspor itu, kata dia, bertolak belakang dengan pencapaian ekspor sepatu pada Januari 2008 hingga Oktober 2008 yang naik 15% dibandingkan periode yang sama 2007. "Mestinya target ekspor sepatu 2008 sebesar US$ 1,8 miliar tercapai, tapi kami masih wait and see," tuturnya.
Berdasarkan data Depperin yang diperoleh dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), perusahaan yang berinvestasi di sektor alas kaki itu antara lain berasal dari China, Korea Selatan, dan Taiwan. PMA yang mendapat izin prinsip antara lain PT Bu Kyung Indonesia (PMA Korea Selatan) dengan nilai investasi US$10 juta yang merealisasikan pabrik baru dengan kapasitas 3,5 juta pasang sepatu per tahun. PT Shoe Link Shoes Indonesia berencana membangun pabrik baru senilai US$3,5 juta dengan kapasitas 3 juta pasang per tahun. PT Ka Yuen Indonesia berencana membangun pabrik baru US$2,9 juta dengan kapaitas produksi 12,2 juta pasang per tahun.
Sedangkan perusahaan sepatu PMDN yang berencana membangun pabrik baru pada tahun ini adalah PT Simko Prima Mandiri dengan nilai investasi Rp22 miliar. Pabrik baru itu direncanakan berkapasitas produksi 3 juta pasang per tahun. Sementara itu, perusahaan PMA yang berencana melakukan ekspansi antara lain PT Sepatu Mas Idaman yang akan menambah kapasitas produksi 870.000 pasang dengan investasi Rp 66 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












