Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) meraih laba bersih sebesar Rp 172,97 miliar pada kuartal I-2026. Keuntungan MPMX naik 7,60% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 160,75 miliar pada kuartal I-2025.
Pertumbuhan laba bersih ini justru terjadi ketika pendapatan neto MPMX menyusut 4,31% (yoy) dari Rp 4,17 triliun menjadi Rp 3,99 triliun hingga Maret 2026. Meski begitu, pada periode yang sama MPMX mampu meningkatkan margin laba.
Biaya pokok pendapatan MPMX turun 4,97% (yoy) menjadi Rp 3,63 triliun. Hasil ini mendongkrak laba bruto MPMX sebanyak 2,86% (yoy) dari Rp 354,45 miliar menjadi Rp 364,62 miliar pada tiga bulan pertama 2026. Pada saat yang sama, laba usaha MPMX naik 6,24% (yoy) dari Rp 181,35 miliar menjadi Rp 192,68 miliar.
Grup Chief Financial Officer Mitra Pinasthika Mustika, Beatrice Kartika, menjelaskan bahwa penurunan pendapatan MPMX mencerminkan penyesuaian pada beberapa lini usaha. Meski begitu, MPMX berhasil menjaga kinerja profitabilitas. Margin laba kotor MPMX membaik menjadi 9,1% dari 8,5% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Dukung TKDN, SKK Migas Dorong Penggunaan Pompa Industri Lokal di Sektor Hulu
Sementara itu, margin laba usaha naik dari 4,3% menjadi 4,8%, yang mencerminkan peningkatan efisiensi operasional. Sejalan dengan itu, margin laba bersih meningkat dari 3,8% menjadi 4,3%.
“Tantangan dari perlambatan ekonomi masih terasa di sektor otomotif hingga kuartal I-2026. Meski demikian, fokus Perseroan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas berhasil mendorong efisiensi operasional, memperkuat profitabilitas, serta menerapkan disiplin dalam pengelolaan risiko, khususnya pada segmen pembiayaan. Kami optimistis MPMX dapat terus menjaga ketahanan kinerja secara berkelanjutan,” terang Beatrice dalam rilis yang disiarkan Kamis (30/4/2026).
Beatrice menerangkan bahwa secara segmentasi, kinerja MPMX menunjukkan dinamika yang beragam dengan fokus pada penguatan kualitas pendapatan dan efisiensi.
Pada segmen bisnis distribusi dan ritel kendaraan roda dua, MPMulia mencatatkan kinerja operasional yang beragam, dengan penurunan penjualan sepeda motor pada bisnis distribusi yang sebagian diimbangi oleh pertumbuhan di bisnis ritel serta kestabilan pendapatan purna jual.
Bisnis distribusi mencatatkan penurunan pendapatan penjualan sepeda motor sekitar 5% (yoy), sementara pendapatan purna jual meningkat 4% (yoy). Pada bisnis ritel, pendapatan penjualan meningkat sebesar 3% (yoy), meskipun pendapatan purna jual mengalami penurunan tipis sebesar 2% (yoy).
Pendapatan bersih dari segmen ini menurun 3% (yoy) menjadi Rp 3,79 triliun. Meski begitu, laba kotor mampu meningkat 2% (yoy) menjadi Rp 321 miliar, dengan margin yang membaik dari 8% menjadi 8,5%, yang mencerminkan pengelolaan biaya yang lebih optimal serta kontribusi yang lebih baik dari lini bisnis ritel dan purna jual.
Pada segmen bisnis asuransi, MPMInsurance mencatat penurunan pendapatan sekitar 17% (yoy) menjadi Rp 204 miliar, terutama dipengaruhi oleh penurunan kontribusi pada lini kendaraan bermotor dan properti.
Namun, kinerja operasional menunjukkan perbaikan, tercermin dari penurunan biaya pendapatan sekitar 22% (yoy) yang mendorong peningkatan hasil layanan asuransi sebesar 10% (yoy) menjadi Rp 44 miliar.
Selain itu, hasil investasi meningkat 34% (yoy) menjadi Rp 12 miliar, didukung oleh peningkatan pendapatan lainnya. Berlanjut ke segmen bisnis penyewaan kendaraan, MPMRent mencatat aktivitas operasional yang lebih moderat, dengan penurunan pendapatan 4% (yoy) menjadi Rp 368 miliar.
Meski begitu, laba kotor meningkat 9% (yoy) menjadi Rp 83 miliar, dengan margin laba kotor yang membaik signifikan dari 19,9% menjadi 22,6%. Peningkatan ini didorong oleh penurunan harga pokok penjualan, peningkatan profitabilitas pada bisnis penyewaan kendaraan, serta kontribusi yang lebih kuat dari penjualan mobil bekas.
Sedangkan di segmen bisnis pembiayaan, JACCS MPMFinance Indonesia mencatat penurunan pendapatan sekitar 43% (yoy) sejalan dengan strategi yang lebih selektif dan berfokus pada kualitas aset.
Langkah ini diikuti penurunan beban operasional sekitar 40% (yoy) menjadi Rp 160 miliar, serta penurunan beban provisi dan biaya terkait aset, sehingga rugi bersih berhasil ditekan 23% (yoy) menjadi Rp 38 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













