CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.007,13   -8,88   -0.87%
  • EMAS973.000 0,21%
  • RD.SAHAM -1.86%
  • RD.CAMPURAN -0.70%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Masyarakat mulai meninggalkan beras medium


Senin, 12 November 2018 / 06:00 WIB
Masyarakat mulai meninggalkan beras medium
ILUSTRASI. Pekerja mengangkut beras di Pasar Induk Beras Cipinang


Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Belakangan, masyarakat mulai meninggalkan beras medium. Konsumsi masyarakat kemudian mulai beralih dari jenis beras medium ke beras jenis premium. Kinerja sejumlah produsen beras menunjukkan hal ini. PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI), salah satunya.

Mengutip dari laporan keuangan emiten beras Buyung Poetra pada laman Bursa Efek Indonesia, pendapatan HOKI sampai kuartal III 2018 meningkat 17,78% menjadi Rp 1,06 triliun dari periode sama tahun lalu Rp 900,05 miliar. Emiten ini berfokus pada penjualan beras premium, yang kinerjanya ditopang dengan penjualan beras mencapai Rp 1,088 triliun atau lebih besar 15,6% dari yoy Rp 941,3 miliar. Dari laporan keuangan tersebut dapat digambarkan, saat ini beras jenis premium sudah banyak peminatnya.

Pengamat Pertanian Khudori menjelaskan, bagi masyarakat beras bukan lagi komoditas tunggal dan bagi masyarakat menengah beras bukan lagi barang inferior. Preferensi masyarakat saat ini tidak lagi pada beras medium, tapi ke beras premium.

“Dalam beberapa tahun terakhir, pergerakan harga beras lebih banyak ditentukan oleh beras premium, bukan medium. Namun saat harga beras naik, konsumen tidak langsung beralih ke beras yang lebih murah, tapi mengurangi volume pembelian,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (11/11).

Berdasarkan kajian Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) April 2016 di 13 kota, yaitu Medan, Padang, Jambi, Bengkulu, Bogor, Bandung, Semarang, Jogja, Solo, Malang, Jember, Denpasar, dan Makassar pada 1.977 orang responden tentang perilaku konsumen beras Indonesia. Kajian tersebut memberikan hasil bahwa makan nasi setiap hari masih dianggap penting disamping banyaknya pilihan makanan lain, dari 98% responden pendapatan mengah, 93% responden pendapatan rendah, dan 83% responden pendapatan tinggi.

Hasil kajian tersebut juga menyebutkan frekuensi pembelian beras sebesar 2,7 kali per bulan dengan rata-rata konsumsi 70,4 kg per kapita per tahun. Kenaikan harga beras yang akan membuat responden mengubah konsumsi sebanyak 21,8% responden berpendapatan tinggi, 16,7% responden berpendapatan rendah, dan 15,2% responden berpendapatan menengah mengurangi beras yang dikonsumsi. Sedangkan 15,7% responden pendapatan tinggi akan mengganti dengan beras merek atau jenis lain.

“Preferensi masyarakat telah bergeser, kebijakan pemerintah perlu mengikuti agar efektif. Misalnya Operasi Pasar kurang efektif jika hanya menggunakan satu kualitas beras, akan lebih efektif jika juga menggunakan beras premium, tidak hanya beras medium saja,” ujar Khudori.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.

Tag


TERBARU

[X]
×