kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.047.000   8.000   0,26%
  • USD/IDR 16.880   -90,00   -0,53%
  • IDX 7.439   101,19   1,38%
  • KOMPAS100 1.038   18,05   1,77%
  • LQ45 762   11,30   1,51%
  • ISSI 262   4,26   1,65%
  • IDX30 403   5,31   1,34%
  • IDXHIDIV20 497   3,56   0,72%
  • IDX80 117   2,02   1,76%
  • IDXV30 135   1,81   1,36%
  • IDXQ30 130   1,35   1,05%

Menjelang Lebaran, Industri Makanan dan Minuman Mitigasi Dampak Gejolak Timur Tengah


Selasa, 10 Maret 2026 / 13:21 WIB
Menjelang Lebaran, Industri Makanan dan Minuman Mitigasi Dampak Gejolak Timur Tengah
ILUSTRASI. Industri makanan dan minuman (mamin) turut memitigasi dampak eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri makanan dan minuman (mamin) turut memitigasi dampak eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Produsen makanan dan minuman ingin memenuhi pertumbuhan permintaan pada momentum Ramadan - Idulfitri, serta mengamankan bahan baku untuk operasional pasca Lebaran.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika mengungkapkan bahwa industri agro secara umum belum terdampak langsung eskalasi konflik di Timur Tengah. Pelaku industri sudah mengamankan pasokan sejumlah bahan baku, yang sebagian bisa didatangkan dari negara di luar Timur Tengah.

Putu mencontohkan impor gula rafinasi untuk kebutuhan industri yang banyak diimpor dari Australia, Thailand dan Amerika Latin. Meski begitu, Putu menekankan bahwa Kemenperin dan pelaku industri terus mencermati dampak dari lonjakan harga dan biaya, terutama biaya dan ketersediaan logistik.

"Untuk bahan baku impor, kemarin itu sudah ada masuk, sehingga masih belum terdampak dengan konflik tersebut. Mungkin nanti yang terdampak itu bahan baku yang akan datang, terutama karena logisitik dan biaya pengangkutannya," kata Putu saat ditemui di Bazar Lebaran 2026 - Kemenperin pada Selasa (10/3/2026).

Baca Juga: Saka Energi Targetkan Produksi Migas 24.000 BOEPD pada 2026

Putu bilang, Kemenperin terus memonitor perkembangan eskalasi konflik di Timur Tengah dan mengukur dampaknya terhadap industri manufaktur nasional. Putu mencontohkan, salah satu sub sektor yang rentan terdampak adalah industri kimia.

Putu berharap dampaknya bisa termitigasi, karena industri kimia juga terkait dengan industri plastik dan kemasan, yang turut menjadi komponen penting bagi industri makanan dan minuman.

"Kami dengan Pak Menteri (Perindustrian) sudah beberapa kali rapat pimpinan untuk melakukan assessment dan memonitor terus perkembangannya. Jadi sudah kami coba cari alternatif-alternatif mitigasinya," ujar Putu. 

Wakil Ketua Umum Bidang Pembinaan & Pengembangan UMKM Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) Irwan S. Widjaja menyampaikan bahwa pelaku industri menyiapkan langkah mitigasi untuk memastikan ketersediaan bahan baku. Akibat gejolak di Timur Tengah, para pengusaha mesti melakukan rekalkulasi, terutama untuk menghitung pembengkakan biaya transportasi dan waktu pengirimannya.

Para produsen mamin mengupayakan ketersediaan bahan baku agar bisa mencukupi permintaan masyarakat, paling tidak mengamankan stok hingga semester I-2026. "Lebih kurang bisa, tapi itu tergantung dari kebutuhan masyarakat. Kami memitigasi itu semua, jangan sampai imbasnya ke masyarakat dan UMKM," terang Irwan.

Baca Juga: Hyundai Tawarkan Promo Spesial Ramadan, Simak Rinciannya

Irwan pun menegaskan sejauh ini pelaku industri makanan dan minuman belum berencana untuk menaikkan harga jual. "Kami belum terpikir untuk menaikkan harga jual. Kami berusaha bagaimana mempertahankan harga jual," imbuh Irwan.

Di sisi lain, Irwan optimistis momentum Ramadan - Idulfitri bisa mendongkrak kinerja industri makanan dan minuman. Adapun pada tahun ini, Gapmmi memproyeksikan kinerja industri makanan dan minuman bisa tumbuh di atas 7%. 

Kemenperin pun menilai target 7% memungkinkan untuk tercapai. Putu optimistis pertumbuhan kinerja industri makanan dan minuman bisa bertahan di atas 6%. Putu mengamini, Ramadan - Idulfitri menjadi momentum pendongkrak bagi kinerja industri makanan dan minuman.

Putu mencontohkan dari sisi tingkat utilisasi produksi. Saat ini tingkat utilisasi industri makanan dan minuman berada pada kisaran 70% - 80%, meningkat dari rata-rata utilisasi sebesar 60%. "Hal ini menunjukkan kesiapan produsen dalam mengantisipasi kenaikan permintaan," ujar Putu.

Menjelang Idulfitri, Kemenperin pun menggandeng 80 pelaku industri untuk menggelar Bazar Lebaran 2026. Berlangsung pada 10-13 Maret 2026 di Kantor Kemenperin, Bazaar Lebaran 2026 diikuti oleh pelaku industri yang mencakup skala menengah hingga besar maupun UMKM.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×