kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.980   67,00   0,37%
  • IDX 5.708   65,14   1,15%
  • KOMPAS100 738   10,22   1,40%
  • LQ45 559   6,39   1,16%
  • ISSI 199   2,20   1,12%
  • IDX30 317   2,92   0,93%
  • IDXHIDIV20 390   1,06   0,27%
  • IDX80 84   1,05   1,26%
  • IDXV30 107   -0,02   -0,02%
  • IDXQ30 102   0,58   0,57%

Menko Luhut restui investasi smelter Tsingshan-Freeport di Weda Bay


Rabu, 03 Februari 2021 / 19:17 WIB
ILUSTRASI. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan Tsingshan dan PT Freeport Indonesia diambang kesepakatan kerjasama untuk membangun smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera.

Luhut menyampaikan, kesepakatan kerjasama antara Tsingshan dan Freeport  menjadi pendorong investasi di Indonesia, khususnya dari sisi hilirisasi tambang yang gencar dalam enam tahun belakangan ini. 

"Ini finalisasi perjanjian antara Tsingshan dengan Freeport di Weda Bay, Halmahera. Itu akan membuat smelter dari copper yang sebagian menghasilkan asam sulfat," kata Luhut dalam wawancara daring dalam salah satu siaran TV, Rabu (3/2).

Lebih lanjut, Luhut menjelaskan, asam sulfat yang dihasilkan oleh smelter Freeport-konsorsium Tsingshan akan terintegrasi dengan smelter nikel ore sebagai bagian dari produksi lithium battery. Adapun, kesepakatan Freeport dengan perusahaan asal China itu akan menyentuh angka US$ 2,8 miliar.

"Jadi kalau ini semua berjalan sesuai rencana, karena sudah jalan smelter ore-nya, maka 2023 kita akan memproduksi lithium battery NM811, itu yang terbaru teknologinya," sambung Luhut.

Baca Juga: Nasib smelter baru Freeport antara pemangkasan kapasitas dan kerja sama pihak ketiga

Sebagai informasi, kerjasama dengan pihak ketiga menjadi salah satu opsi untuk membangun smelter baru. Hal itu untuk memenuhi kewajiban Freeport Indonesia sesuai dengan IUPK yang diterimanya pada Desember 2018.

Sebelumnya, Executive Vice President and Chief Financial Officer Freeport-Mc.Moran Kathleen L. Quirk menegaskan bahwa opsi-opsi terkait pembangunan smelter baru PTFI ini dijalankan secara pararel. Dengan begitu, Freeport bisa membandingkan keekonomian dari masing-masing opsi tersebut.

Dia pun berharap bisa segera mendapatkan kepastian opsi dan persetujuan dari pemerintah dalam waktu yang tak terlalu lama. "Kami perlu mendapatkan kejelasan selama beberapa bulan ke depan untuk membuat keputusan tentang jalan mana yang harus diikuti," kata Kathleen.

Freeport memang tengah berjibaku dengan waktu. Pasalnya, sesuai dengan kewajiban di dalam IUPK, smelter baru harus selesai pada Desember 2023. Namun, pembangunan smelter yang sedang berjalan terhambat pandemi Covid-19.

Selanjutnya: Ada pemberlakuan PPKM, intip prospek Mitra Adiperkasa (MAPI)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×