kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.561.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 18.048   88,00   0,49%
  • IDX 5.864   -79,24   -1,33%
  • KOMPAS100 761   -9,05   -1,18%
  • LQ45 590   -4,50   -0,76%
  • ISSI 201   -3,89   -1,90%
  • IDX30 329   -2,36   -0,71%
  • IDXHIDIV20 423   -1,46   -0,34%
  • IDX80 87   -0,86   -0,97%
  • IDXV30 116   -0,59   -0,51%
  • IDXQ30 108   -0,38   -0,35%

Moody’s Pertahankan Rating Baa3 untuk Freeport, Pemulihan Grasberg Jadi Kunci


Jumat, 16 Oktober 2026 / 07:10 WIB
Moody’s Pertahankan Rating Baa3 untuk Freeport, Pemulihan Grasberg Jadi Kunci
ILUSTRASI. Pertambangan mineral Freeport (Dok/PTFI)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Moody’s Ratings mempertahankan peringkat kredit PT Freeport Indonesia (PTFI) di level Baa3 dengan prospek stabil. Keputusan ini mencerminkan keyakinan lembaga pemeringkat tersebut terhadap kemampuan Freeport menjaga kesehatan keuangan di tengah pemulihan produksi tambang Grasberg yang terdampak insiden pada 2025.

Dalam pengumuman pada Kamis (15/10/2026), Moody’s mengafirmasi peringkat emiten (issuer rating) dan obligasi senior tanpa jaminan (senior unsecured bond rating) Freeport Indonesia di Baa3 dengan outlook stabil.

Vice President Moody’s Ratings Rachel Chua dalam rilis pada Kamis (15/10/2026) mengatakan, rasio keuangan Freeport diperkirakan tetap kuat dalam 12–18 bulan ke depan, dengan rasio utang terhadap EBITDA berada sedikit di bawah 1 kali seiring berlanjutnya pemulihan operasi tambang Grasberg.

Baca Juga: Lampaui Ekspor, Konsumsi CPO Domestik Diproyeksi Tembus 27,1 Juta Ton

“Rasio kredit PT Freeport Indonesia akan tetap kuat, dengan leverage sedikit di bawah 1,0 kali selama 12–18 bulan ke depan seiring perusahaan terus memulai kembali operasi di tambang Grasberg,” ujar Rachel Chua dalam keterangan Moody’s.

Ia menambahkan, harga tembaga dan emas yang masih tinggi akan membantu meredam dampak penurunan produksi sepanjang 2026. Produksi diperkirakan pulih pada 2027 seiring peningkatan aktivitas operasional.

Pemulihan produksi Grasberg 

Moody’s menyoroti insiden mud rush atau semburan material lumpur pada September 2025 di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), yang menyebabkan penghentian operasi tambang bawah tanah. Peristiwa tersebut menunjukkan sensitivitas arus kas Freeport terhadap gangguan pada satu aset tambang yang kompleks secara teknis.

Freeport telah kembali memproduksi tembaga dan emas dari tambang Deep Mill Level Zone dan Big Gossan yang tidak terdampak insiden. Perusahaan juga menyelesaikan perbaikan pada bagian GBC yang terdampak pada kuartal I-2026 dan mulai mengoperasikan kembali Blok Produksi 2 dan 3 secara bertahap sejak Maret 2026.

Freeport menargetkan kapasitas produksi mencapai sekitar 65% pada semester II-2026 dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027. Sementara itu, Blok Produksi 1S masih dalam proses perbaikan dan diperkirakan kembali beroperasi pada pertengahan 2027.

Meski volume produksi pada 2026 lebih rendah, harga komoditas yang tinggi menjadi penopang kinerja keuangan perusahaan. Moody’s mencatat, hingga Oktober 2026, harga emas rata-rata mencapai US$ 4.600 per ons, sedangkan harga tembaga rata-rata sepanjang tahun berjalan berada di US$ 6,20 per pon.

Baca Juga: Hashim Siapkan Insentif Teknologi Penangkap Karbon untuk Industri

Kondisi tersebut mendukung kemampuan Freeport menghasilkan laba dan arus kas selama proses pemulihan operasional berlangsung.

Perpanjangan izin tambang 

Selain pemulihan produksi, Moody’s menilai prospek jangka panjang operasi Grasberg turut menopang peringkat kredit Freeport.

Pada 2026, pemerintah Indonesia menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan Freeport-McMoRan Inc. dan Freeport Indonesia untuk memperpanjang izin operasi Grasberg setelah 2041, selama sumber daya yang layak ditambang secara ekonomis masih tersedia. Perpanjangan tersebut tetap bergantung pada peninjauan regulator dan pemenuhan ketentuan yang berlaku.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Freeport-McMoRan akan mendivestasikan tambahan 12% saham kepada pemerintah Indonesia pada 2041. Dengan demikian, kepemilikannya di Freeport Indonesia akan turun menjadi sekitar 37% mulai 2042.

Moody’s menilai kesepakatan tersebut positif bagi kualitas kredit perusahaan karena mendukung keberlanjutan operasi di salah satu deposit tembaga dan emas terbesar di dunia, sekaligus mempertahankan struktur tata kelola dan operasional berdasarkan izin pertambangan yang berlaku.

Moody’s juga menilai risiko regulasi di Indonesia meningkat, antara lain akibat pengumuman kenaikan tarif royalti untuk sejumlah komoditas, termasuk tembaga dan emas. Namun, lembaga tersebut tidak memperkirakan perubahan tarif itu akan berdampak terhadap Freeport karena izin pertambangannya memberikan kepastian ketentuan fiskal hingga 2041.

Dalam ketentuan tersebut, tarif royalti Freeport ditetapkan sebesar 4% untuk tembaga dan 3,75% untuk emas.

Peringkat Baa3 Freeport juga ditopang oleh rekam jejak operasional yang mapan di distrik mineral Grasberg, umur cadangan tambang yang panjang, biaya produksi yang rendah berkat kandungan emas dalam konsentrat tembaga, margin EBITDA yang kuat, serta kebijakan keuangan yang pruden.

Baca Juga: Antrean BBM di Bali Mulai Mereda, Pertamina: 19 Juta Liter Pasokan Sudah Tiba

Meski demikian, Moody’s menilai diversifikasi operasional, komoditas, dan geografis Freeport masih terbatas dibandingkan perusahaan tambang lain dengan peringkat serupa. Ketergantungan pada satu kawasan tambang menjadi salah satu risiko utama yang membatasi ruang kenaikan peringkat.

Likuiditas kuat hingga 2027

Dari sisi likuiditas, Moody’s menilai Freeport memiliki posisi yang sangat kuat hingga 2027.

Per 30 Juni 2026, Freeport memiliki kas dan setara kas sebesar US$ 381 juta. Perusahaan juga diperkirakan menghasilkan arus kas operasional sebesar US$ 6 miliar hingga Desember 2027, serta memiliki akses ke fasilitas kredit berkomitmen yang belum ditarik sebesar US$ 4 miliar.

Dengan sumber pendanaan tersebut, Moody’s memperkirakan Freeport memiliki dana yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pembayaran utang, belanja modal, dan dividen senilai total US$ 6,8 miliar hingga 2027.

Prospek stabil mencerminkan ekspektasi Moody’s bahwa Freeport akan memulihkan produksi secara bertahap sesuai rencana tambang, mempertahankan biaya produksi yang rendah, serta menjaga profitabilitas. Perusahaan juga diharapkan mengelola belanja modal dan pembagian dividen secara hati-hati sembari mempertahankan likuiditas yang kuat.

Risiko penurunan peringkat

Meski mempertahankan peringkat Baa3, Moody’s menyebut ruang kenaikan peringkat Freeport masih terbatas akibat diversifikasi bisnis yang relatif rendah.

Baca Juga: Mengukur Peluang Indonesia Perkuat Posisi di Pasar Batu Bara Metalurgi Global

Kenaikan peringkat memerlukan perbaikan profil bisnis melalui diversifikasi produk dan wilayah geografis, disertai kebijakan keuangan yang konservatif serta pendekatan hati-hati terhadap investasi dan pembagian dividen.

Dari sisi keuangan, kenaikan peringkat juga membutuhkan rasio utang terhadap EBITDA di bawah 1,5 kali dan margin EBIT di atas 50% secara berkelanjutan, serta posisi likuiditas yang sangat kuat.

Sebaliknya, peringkat Freeport berpotensi diturunkan apabila kinerja operasional melemah akibat penurunan produksi atau kenaikan signifikan biaya tunai. Gangguan berarti pada fasilitas smelter yang disertai larangan ekspor konsentrat selama gangguan tersebut juga dapat menekan peringkat.

Risiko penurunan lainnya mencakup kebijakan keuangan atau dividen yang lebih agresif, memburuknya likuiditas, serta penurunan kualitas kredit pemegang saham.

Indikator yang dapat memicu penurunan peringkat antara lain rasio utang terhadap EBITDA yang bertahan di atas 2,0–2,25 kali dan margin EBIT di bawah 35%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×