Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor kesehatan menjadi salah satu yang banyak diincar pemodal ventura untuk menanamkan investasinya. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan rintisan (startup) di sektor ini yang sukses mendapatkan suntikan dana.
Terbaru, Agustus lalu, Living Lab Ventures (LLV) bersama Spiral Ventures melalui Japan Thematic Fund (JTF) berinvestasi pada startup healthtech, Bumame.
Bayu Seto, Partner at Living Lab Ventures bilang healthcare merupakan salah satu sektor yang dipantau aktif. Kebutuhan terhadap layanan dan solusi kesehatan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi, demografi dan kesadaran masyarakat.
“Kami melihat preventive healthcare sebagai salah satu area yang memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang,” ungkapnya kepada Kontan akhir awal pekan ini.
Baca Juga: Bumame Buka Klinik Keenam, Bidik 20 Lokasi di Jabodetabek pada Kuartal I 2027
Menurutnya pengembangan healthcare value chain yang dimulai dari diagnostic, medical devices, healthcare service, preventif care hingga solusi dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Apalagi inovasi tersebut juga dapat dihubungkan dengan pengembangan ekosistem yang dilakukan Sinarmas selama ini.
Bayu meyakini propek healthcare masih menjanjikan dalam jangka panjang. Justru beragam tantangan yang ada saat ini menciptakan peluang pasar yang besar bagi perusahaan yang mampu menawarkan solusi nyata.
“Kami melihat healthcare bukan hanya sebagai technology play, tetapi sebagai essential industry dengan berbagai peluang inovasi di sepanjang value chain,” tandasnya.
Meski begitu, diakuinya sekarang investor menjadi jauh lebih selektif terkait pendanaan. Fokusnya tidak lagi semata-mata pada pertumbuhan pengguna atau ekspansi agresif, tetapi juga mempertimbangkan fundamental bisnis, sustainability, unit ekonomi, profitabilitas serta kemampuan menciptakan nilai dan dampak nyata.
Meluas ke layanan preventif
Dalam perkembangannya, bukan hanya sekedar healthcare, sekarang trennya sudah sudah lebih spesifik ke preventif healthcare. Startup tidak lagi berfokus pada treatment ketika seseorang mengalami kondisi kesehatan tertentu, tetapi sudah proaktif melalui prevention, early detection, screening, monitoring, dan maintaining health.
“Preventive healthcare bukan sekadar tren, tetapi bagian dari perubahan yang lebih besar dalam bagaimana masyarakat dan sistem kesehatan melihat prevention versus treatment,” timpalnya.
Namun prakteknya, Bayu bilang ini cukup beragam. Peluangnya bisa datang dari diagnostic solutions, screening technology, medical devices, nutrition, wellness, preventive treatment, serta berbagai layanan yang membantu masyarakat mendeteksi dan mengelola risiko kesehatan lebih awal. Yang penting solusi tersebut mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Senada, Ketua Umum Eddi Danusaputra pun melihat modal ventura tidak lagi hanya melirik layanan kuratif seperti telekonsultasi, tetapi sudah mulai masuk ke layanan kesehatan preventif.
“Sektor preventif ini sangat menarik perhatian VC karena menawarkan pergeseran perilaku konsumen, dari sekadar "mengobati saat sakit" menjadi "menjaga kesehatan secara proaktif", cetusnya.
Baca Juga: Amvesindo: Masuknya Dana Jumbo ke Startup Lokal Jadi Angin Segar Industri
Sementara dari sisi ekonomi, model preventif seperti diagnostik awal, nutrisi, hingga wellness cenderung memiliki tingkat retensi pengguna yang lebih organik dengan potensi Customer Lifetime Value (CLTV) yang tinggi. Jadi tak heran kalau startup yang fokus pada preventive care dengan model bisnis yang jelas pasti akan masuk dalam radar utama pertimbangan modal ventura.
Eddi bilang dari kacamata pemodal ventura, prospek healtech ke depan masih sangat menjanjikan. Startup healthtech hadir sebagai enabler yang terbukti mampu menjembatani akses tersebut sekaligus membuat biaya layanan menjadi lebih efisien.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














