kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Penggunaan Kecerdasan Buatan Meluas, Pemilik Bisnis Perlu Perhatikan Risikonya


Jumat, 02 Oktober 2026 / 16:18 WIB
Penggunaan Kecerdasan Buatan Meluas, Pemilik Bisnis Perlu Perhatikan Risikonya
ILUSTRASI. Artificial Intelligence (AI) - Kecerdasan Buatan (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penggunaan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) dalam bisnis semakin meluas. Mulai dari pemasaran, layanan pelanggan, analisis data hingga pengambilan keputusan.

Namun, ketergantungan pada AI juga membawa risiko. Mulai dari kebocoran data, kesalahan informasi, keamanan sistem hingga hilangnya diferensiasi bisnis.

Pemilik bisnis perlu memastikan AI tetap menjadi alat bantu, bukan penentu arah perusahaan. Founder SyaREA World Syamsul Safin mengatakan, penggunaan AI harus memiliki tujuan yang jelas agar pengusaha tidak sekadar sibuk mencoba berbagai tools tanpa kaitan dengan strategi bisnis.

“Yang jauh lebih penting adalah mereka memahami posisi AI dalam arsitektur bisnisnya, apa yang boleh dibantu AI, apa yang harus tetap diputuskan manusia. Juga batas apa yang tidak boleh dilewati,” ujar Syamsul, dalam keterangannya, awal pekan ini.

Menurut dia, penggunaan AI secara seragam juga berisiko membuat produk dan komunikasi bisnis menjadi generik. Kondisi tersebut dapat mengurangi diferensiasi dan mendorong bisnis masuk ke persaingan harga.

Baca Juga: FL Technics Gandeng GE Aerospace Perkuat Layanan Avionik

Selain itu, penggunaan AI yang terhubung dengan data dan sistem perusahaan meningkatkan risiko keamanan. Data pelanggan, dokumen internal, informasi keuangan hingga strategi bisnis perlu dilindungi. Risiko semakin kompleks ketika perusahaan menggunakan AI Agent yang dapat mengakses aplikasi, data, API dan tools lain.

National Institute of Standards and Technology (NIST) memasukkan hallucination atau confabulation, kebocoran data dan keamanan informasi sebagai sejumlah risiko dalam penggunaan generative AI. Pemilik bisnis tetap perlu memverifikasi hasil AI, terutama ketika digunakan untuk analisis dan pengambilan keputusan.

Syamsul menilai pemilik bisnis tidak harus menjadi ahli AI. Mereka cukup memahami manfaat, batas dan risiko AI serta kaitannya dengan visi dan strategi perusahaan.

“Gunakan AI sampai lapisan arah, visi-misi perusahaan, nilai inti, strategi dan rancangan usaha. Sisanya serahkan kepada tim dan terus awasi,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×