Reporter: Genta Disa | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki zona ekspansi pada September 2026. S&P Global pada Kamis (01/10) mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia mencapai angka 52,4 pada September 2026.
Fajar Budiyono Sekretaris Jenderal Inaplas mengatakan, kenaikan PMI manufaktur ke level di atas 52 menunjukkan adanya penguatan aktivitas industri.
“Kalau kita lihat PMI kita naik dibandingkan bulan kemarin dan sudah di atas 52, itu lebih banyak didorong oleh sektor ritel yang lumayan bagus di awal semester II ini. Kemudian sektor makanan dan minuman juga lumayan bagus,” ujar Fajar kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Baca Juga: Marak Tambang Ilegal, Perhapi Desak Pembentukan Badan Pengumpul Emas Rakyat
Menurutnya, kedua sektor tersebut diharapkan tetap menjadi penopang aktivitas manufaktur hingga akhir tahun.
Fajar berharap permintaan dari sektor ritel dan makanan-minuman dapat bertahan, bahkan meningkat, sehingga menjaga PMI tetap berada di zona ekspansi.
“Pendorong utamanya ada di sektor ritel dan makanan-minuman. Kita harus mempertahankan itu, mudah-mudahan sampai akhir tahun paling tidak bisa bertahan, atau syukur-syukur bisa meningkat. Dorongan terbesar memang dari sektor ritel dan makanan-minuman,” ujar Fajar.
Selain ritel dan makanan-minuman, ia menyebut utilisasi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) juga mulai menunjukkan peningkatan.
“Selain itu, ternyata ada beberapa industri seperti TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) yang kelihatannya utilisasinya sudah mulai naik. Ini membuat pertumbuhan juga lumayan bagus. Mudah-mudahan daya beli masyarakat juga terus bertahan dan bisa naik,” harapnya.
Fajar menilai industri manufaktur masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kepastian pasokan dan harga gas untuk industri.
Menurutnya, industri seharusnya memperoleh Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Namun, pada Oktober 2026 terdapat surat dari PGN yang menyebut adanya keterbatasan pasokan dan sejumlah faktor lainnya sehingga tarif gas berpotensi disesuaikan.
“Harusnya kita sudah mendapatkan HGPT (Harga Gas Bumi Tertentu). Namun, bulan ini ada surat cinta dari PGN bahwa dikarenakan keterbatasan pasokan dan hal lainnya, akan ada penyesuaian tarif. HGPT jadi tidak berlaku dan kemungkinan harganya berada di kisaran 15 hingga 20 Dolar AS per MMBTU untuk bulan Oktober. Ini menjadi kendala besar. Jika tidak ada jalan keluar (way out), kami sudah membahasnya di Kadin, meminta FTD, dan berencana menghadap Presiden,” tegasnya.
Fajar menilai perubahan harga gas secara mendadak dapat menyulitkan industri dalam menyusun perencanaan produksi. Jika tidak segera ditemukan solusi, ia khawatir kenaikan PMI manufaktur kembali tertekan.
“Jika setiap bulan secara mendadak ada penyesuaian pasokan gas, industri tidak bisa membuat perencanaan yang pasti. Hal ini sangat rentan, jangan sampai PMI yang sudah 52 ini turun kembali karena masalah krusial ini,” ujarnya.
Selain energi, industri petrokimia juga menghadapi tekanan dari masuknya produk impor.
“Saat ini, industri petrokimia kebanjiran impor baik dari sisi bahan baku maupun barang jadi. Jika tidak segera diantisipasi, utilisasi kita berada di bawah 60%. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, dari 8 subsektor,” ujarnya.
Menurut Fajar, tekanan tersebut perlu menjadi perhatian karena industri plastik dan karet yang menjadi salah satu subsektor pendukung industri lainnya masih mencatat pertumbuhan negatif.
“hanya sektor plastik dan karet yang mengalami pertumbuhan minus, padahal sektor ini merupakan pendukung bagi industri lainnya,” tuturnya.
Dengan kondisi tersebut, Fajar berharap penguatan aktivitas manufaktur dapat berlanjut hingga penghujung tahun. Namun, kepastian pasokan energi serta pengendalian impor menjadi faktor penting agar PMI tidak kembali mengalami pelemahan.
“Mudah-mudahan sampai akhir tahun kita masih bisa bertahan di atas angka 52,” pungkasnya.
Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Dapat Lisensi Produksi Obat Antivirus Influenza
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














