Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Potensi komoditas biomassa di dalam negeri dinilai sangat besar untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber energi alternatif ramah lingkungan.
Keunggulan Indonesia sebagai negara agraris yang kaya akan limbah pertanian, perkebunan, hingga kehutanan menjadi modal utama penyediaan bahan baku. Kendati demikian, pemanfaatan energi hijau berbasis biomassa ini dinilai belum menjadi pilihan prioritas bagi pemerintah maupun pelaku industri nasional.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro menjelaskan bahwa dari sisi ketersediaan pasokan, posisi Indonesia di pasar global tergolong sangat diperhitungkan.
"Kalau biomassa potensinya cukup besar karena kita negara agraris kemudian ada limbah biomassa yang besar di sana kemudian kita juga ada perkebunan, kehutanan yang potensinya cukup besar," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (29/5/2026).
Baca Juga: Ciputra Group Sebut Pasar Hunian Tegal Masih Positif di Awal 2026
Komaidi berpandangan, melimpahnya bahan baku menempatkan tanah air sebagai salah satu wilayah yang paling prospektif untuk menggarap sektor ini secara masif ke depan.
"Jadi kalau dari sisi ketersediaan bahan baku kita salah satu yang disebut sebagai cukup potensial di dalam pengembangan biomassa," lanjutnya.
Selain pemenuhan untuk kebutuhan domestik, komoditas energi alternatif ini sebenarnya juga mengantongi prospek perdagangan yang cerah di pasar internasional.
Komaidi menuturkan, peluang ekspor dinilai terbuka lebar, asalkan produsen dalam negeri mampu memenuhi kriteria ketat yang diminta oleh para pembeli global. Menurutnya, pasar internasional sangat menekankan aspek konsistensi pasokan pasca penandatanganan kontrak kerja sama.
"Ekspor itu peluangnya cukup terbuka tetapi pasar ekspor itu biasanya menghendaki keseriusan kemudian kontinuitas jadi gak cuma sekali dua kali, apalagi ini masalah energi jadi keberlanjutan menjadi kunci," tuturnya.
Sayangnya, melimpahnya opsi energi lain membuat posisi biomassa terpinggirkan dari fokus rencana strategis jangka pendek maupun jangka menengah dari pemerintah saat ini.
Komaidi menegaskan, Indonesia dinilai terlalu kaya akan opsi energi lain, mulai dari minyak dan gas bumi, batubara, hingga ragam energi baru terbarukan (EBT).
"Masalahnya di Indonesia relatif belum menjadi pilihan utama karena kita dianugarahi energi cukup beraneka ragam, kita fosil punya, batubara punya, migasnya punya, EBT hampir semua jenis ada termasuk yang bisa menjadi penopang produksi listrik yaitu panas bumi kita juga punya yang terbesar kedua di dunia," terangnya.
Dia bilang, faktor keberagaman sumber energi ini membuat pemerintah lebih memilih untuk memaksimalkan utilitas dari infrastruktur energi yang sudah mapan dan dinilai lebih ekonomis. Walhasil, kucuran investasi untuk pabrik pengolahan biomassa seperti wood pellet pun diakui masih berjalan lambat.
"Sebetulnya investasi ketika pemerintah punya roadmap yang jelas potensinya ada investasinya pasti dengan sendirinya akan masuk karena sebetulnya pemilik dananya banyak bukan hanya dari lokal tapi dari luar," pungkasnya.
Baca Juga: Suryacipta Swadaya Kejar Penjualan Lahan 74 Hektar hingga Akhir 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













