Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) menyiapkan investasi sebesar Rp 26,76 triliun untuk pengembangan bisnis perkebunan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Investasi tersebut mencakup pengembangan areal perkebunan dan pembangunan fasilitas pengolahan dengan roadmap pelaksanaan 2025–2029.
Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras mengatakan, investasi tersebut diarahkan untuk memperkuat bisnis eksisting, melakukan tanam ulang, serta mengembangkan hilirisasi berbagai komoditas perkebunan.
Menurutnya, langkah ini dilakukan perusahaan agar semakin selaras dengan program prioritas Presiden Prabowo yang menggadang swasembada pangan hingga ketahanan energi.
Baca Juga: Permintaan Kapal Tambang Turun 60%, Galangan Beralih ke Tanker BBM
“Pada program prioritas, Bapak Presiden menekankan swasembada pangan, ketahanan energi, kesempatan kerja, pemerataan ekonomi, dan muaranya kepada pemerataan kesejahteraan masyarakat. Semua aspek itu melekat dengan operasional PTPN I,” kata Abdul Rivai dalam keterangan yang disiarkan Rabu (21/10/2026).
Dalam rencana investasi tersebut, PTPN I mengalokasikan Rp 16,34 triliun untuk pengembangan sektor hulu (on-farm) dengan cakupan areal perkebunan seluas 342.321 hektare. Sementara itu, sebanyak Rp 10,42 triliun dialokasikan untuk pembangunan 25 fasilitas pengolahan (off-farm) di sejumlah wilayah Indonesia.
Pengembangan bisnis mencakup sejumlah komoditas, antara lain jagung, kelapa, karet, kopi, kakao, jambu mete, dan pala. PTPN I juga disebut mengkaji pemanfaatan jagung sebagai bahan baku bioetanol untuk mendukung pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
Abdul Rivai mengatakan, pengembangan bisnis tersebut ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan, sehingga tak hanya mengandalkan penjualan bahan mentah.
"Hilirisasi bagi PTPN I bukan sekadar pengembangan bisnis baru, melainkan cara kami mengubah paradigma penciptaan nilai. Kekuatan perkebunan tidak lagi hanya diukur dari luas lahan atau volume produksi, tetapi dari nilai ekonomi yang diciptakan ketika hasil perkebunan diolah hingga menjadi produk akhir," jelasnya.
Baca Juga: Produksi Kapal Baru Naik 251,7%, Kemenperin Genjot Galangan Perkuat Daya Saing
Untuk memastikan pelaksanaan investasi, PTPN I menerapkan studi kelayakan bisnis, integrasi rantai pasok dari hulu hingga hilir, serta kepastian pasar melalui pembeli siaga (off-taker).
Melalui program tersebut, perusahaan menargetkan pengembangan bisnis perkebunan yang terintegrasi, termasuk melalui pengolahan komoditas menjadi produk turunan bernilai tambah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














