Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.393
  • EMAS666.000 0,60%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Rata-rata produksi kopi turun 25% di September

Selasa, 03 Oktober 2017 / 17:57 WIB

Rata-rata produksi kopi turun 25% di September

Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pranoto Soenarto , Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) mengungkap hingga September 2017 terjadi penurunan produksi kopi rata-rata 25%-30%. Menurutnya hal tersebut disebabkan oleh kondisi cuaca yang tidak menentu serta hama yang menyerang kebun-kebun kopi.

Dia mengungkap, beberapa daerah di Indonesia seperti Indonesia bagian timur mengalami penurunan produksi yang cukup drastis. Sayangnya, Pranoto enggan menyebutkan berapa persen penurunan produksi tersebut. Meski begitu, dia juga menyebutkan masih ada beberapa wilayah yang produksi kopinya tidak terganggu.


"Saat ini rata-rata kondisinya menurun terutama di Indonesia bagian timur. Tetapi di wilayah Indonesia barat seperti Lampung dan Jawa masih ada yang berbunga. Kondisinya masih baik-baik saja, curah hujan juga masih baik," terang Pranoto, Selasa (3/10).

Melihat masih ada beberapa wilayah di Indonesia Barat yang akan menghadapi musim panen hingga Desember, Pranoto berharap produksi kopi yang dihasilkan mampu menutupi penurunan produksi yang terjadi hingga September tahun ini.

Menurut Pranoto, saat ini rata-rata produksi kopi di Indonesia masih berkisar 600-800 kg per hektar. Meski masih ada beberapa wilayah yang bisa menghasilkan kopi lebih banyak dari jumlah tersebut.

Dia juga mengungkap sudah ada upaya dari pelaku usaha serta pemerintah untuk meningkatkan produktivitas kopi, namun hasilnya baru akan terlihat pada lima tahun mendatang.

"Kalau Vietnam rata-rata produksi 2,3 ton per ha, sementara Brazil bisa sampai 8 ton per ha. Jadi produksi kita nasih jauh. Mungkin kalau perbaikan dari sekarang hasilnya baru terlihat paling tidak 5 tahun lagi. Yang saya harapkan Indonesia itu bisa memproduksi 1,2 ton sampai 1,5 ton supaya petani sejahtera," tambahnya.

Meskipun produksi masih tergolong sedikit. Namun Pranoto mengungkapkan produk kopi Indonesia khususnya arabica masih dihargai cukup mahal yakni US$ 5 hingga US$ 6 per kg.

Karena itu semakin banyak petani yang beralih menanam kopi specialty. Padahal, kopi specialty harus dipilih dari biji kopi terbaik serta memerlukan penanganan yang berbeda dari kopi biasanya.

Pranoto mengungkap, saat ini persentase kopi specialty di Indonesia berkisar 30%. 25% berasal dari kopi arabica sementara 5% berasal dari kopi robusta. 


Reporter: Lidya Yuniartha
Editor: Yudho Winarto
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0699 || diagnostic_web = 0.4550

Close [X]
×