kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.694   108,00   0,61%
  • IDX 6.470   -252,97   -3,76%
  • KOMPAS100 859   -34,67   -3,88%
  • LQ45 638   -20,11   -3,06%
  • ISSI 234   -8,67   -3,57%
  • IDX30 362   -9,19   -2,48%
  • IDXHIDIV20 447   -8,29   -1,82%
  • IDX80 98   -3,68   -3,61%
  • IDXV30 127   -2,61   -2,01%
  • IDXQ30 117   -2,43   -2,04%

Semester II, Ace Hardware kejar target penjualan


Rabu, 12 Agustus 2015 / 17:57 WIB


Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. PT Ace Hardware Tbk optimistis melihat prospek bisnis pada semester II ini. Apalagi untuk kuartal IV, diperkirakan penjualan perseroan bisa kembali meningkat.

"Biasanya, realisasi penjualan kami di semester I minimal 45%, sisanya bisa dikejar saat semester II," ujar Helen Tanzil, Sekretaris Perusahaan Ace Hardware kepada KONTAN, (12/9).

Untuk catatan, hingga Juli lalu perseroan telah merealisasi 52% target penjualan hingga akhir tahun. Sementara, targetnya sendiri hingga akhir tahun sekitar Rp 5,3 triliun.

Industri ritel modern seperti Ace Hardware memang sedang tertekan oleh melemahnya daya beli masyarakat. Tapi, secara historis, biasanya Ace Hardware memang memiliki dua periode kenaikan penjualan secara signifikan dalam setiap satu tahun. Fase pertama sudah dilalui pada Juli lalu ketika Ace Hardware mencetak SSSG 2,2%.

Nah, sepanjang Agustus dan September memang menjadi bisnis seperti biasa bagi Ace Hardware. Tapi, mulai kuartal IV akan menarik bagi perusahaan.

Kenaikan penjualan yang biasanya terjadi pada bulan Oktober akan menjadi puncak pertama di kuartal tersebut. Selain itu, Natal juga menjadi katalis positif bagi perseroan, sehingga posisi penjualan perseroan masih berada di puncak hingga akhir tahun.

Selain itu, ketika sejumlah pelaku industri sejenis terkena risiko paparan kurs, maka hal ini tidak berlaku bagi Ace Hardware. Perseroan memang melakukan transaksi dengan menggunakan mata uang asing untuk belanja sebagian barang dagangannya.

Tapi, perseroan tidak terekspos pengaruh fluktuasi nilai tukar mata uang asing dikarenakan transaksi pembelian barang dagangan sudah menggunakan uang muka terlebih dahulu dalam mata uang Rupiah.

Di sisi lain, manajemen juga tetap memonitor fluktuasi nilai tukar mata uang secara terus-menerus. "Sehingga, apabila diperlukan dapat menggunakan transaksi lindung nilai untuk mengurangi risiko mata uang asing," pungkas Helen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×