kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Tantangan bagi industri makanan dan minuman di tahun ini


Senin, 14 Januari 2019 / 16:47 WIB


Reporter: Lita Febriani | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri makanan dan minuman (Mamin) tahun diperkirakan akan tumbuh stagnan sama dengan tahun lalu. Pengaruh dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah menjadikan pendorong utama faktor pertumbuhan beberapa tahun kebelakang.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi Lukman mengatakan selain dollar AS, persoalan Upah Minumum Provinsi (UMP) juga berpengaruh terhadap pertumbuhan industri Mamin tahun ini. "Ada kenaikan UMP," terang Adhi kepada Kontan.co.id, Senin (14/1).

Selain itu, kenaikan BBM subsidi yang direncanakan pemerintah menurut Gapmmi akan mempengaruhi industri Mamin. Padahal, transportasi pendistribusian barang menggunakan BBM subsidi.

"Ini kalau BBM subsidi dikurangi atau dihapus tentunya berpengruh terhadap penjualan logisitik kan. Berarti apakah ini logistik atau transportasi atau distribusi akan naik atau tidak inikan menunggu dari sektor transportasi," tambah Adhi.

Adhi memperkirakan, industri makanan dan minuman di tahun politik ini akan mengalami pertumbuhan sekitar 8% sampai 9% atau stagnan. Produk minuman, snack dan biskuit nantinya akan mendominasi saat kampanye.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×