kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Tarif dihapus, WhatsApp dapat uang dari mana?


Selasa, 19 Januari 2016 / 12:00 WIB
Tarif dihapus, WhatsApp dapat uang dari mana?


Sumber: Kompas.com | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. WhatsApp baru saja mengumumkan penghapusan biaya berlangganan sebesar 1 dollar AS per tahun. Ini berarti layanan WhatsApp bisa digunakan secara gratis untuk selamanya.

Pengumuman ini dilakukan pada saat layanan pesan instan sudah digunakan oleh hampir 1 miliar orang. Tepatnya 990 juta pengguna.

"(Pengguna) kami masih kurang 10 juta lagi," kata CEO WhastApp Jan Koum dalam blog perusahaan, seperti dikutip KompasTekno, Selasa (19/1/2016). 

Dengan dihapusnya biaya langganan tersebut, pertanyaan yang muncul adalah dari mana pemasukan WhatsApp? 

Sejak dibeli oleh Facebook pada Februari 2014 dengan mahar Rp 223 triliun, WhatsApp memang belum menghasilkan apa-apa selain dari biaya langganan 1 dollar AS untuk tahun pertama.

Banyak yang menduga, WhatsApp akan mulai menyelipkan iklan dalam aplikasi pesan instannya. Namun, Koum mengatakan rencana masa depan WhatsApp tidak terkait dengan iklan. 

"Bagaimana WhatsApp bisa tetap beroperasi tanpa ada pemasukan, apakah bakal ada iklan dari pihak ketiga? Jawabannya tidak," tegas Koum. 

Sejak pertama didirikan hingga diakuisisi Facebook, WhatsApp telah berjanji tidak akan memasukkan iklan pada layanannya.

Alih-alih memasukkan iklan, WhatsApp ternyata punya rencana lain untuk mendulang pemasukan. Caranya dengan menyasar perusahaan-perusahaan yang ingin memanfaatkan basis data pengguna yang dimiliki WhatsApp.

Bentuknya tetap bukan iklan. Perusahaan nantinya bisa melakukan interaksi dengan pengguna WhatsApp yang disasarnya. 

Contohnya, informasi keterlambatan jadwal terbang pesawat bisa langsung dikirim ke penumpang via WhatsApp oleh maskapai penerbangan.

Koum mengatakan fitur untuk perusahaan tersebut akan mulai uji coba pada tahun ini.

"Kami akan menguji fitur yang membuat Anda bisa memakai WhatsApp sebagai sarana komunikasi dengan bisnis dan organisasi yang diinginkan," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×