Reporter: Adisti Dini Indreswari | Editor: Sanny Cicilia
JAKARTA. Harga karet alam yang jatuh semakin dalam mendesak tiga negara penghasil karet yang bergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) yaitu Indonesia, Thailand, dan Malaysia segera mengambil langkah.
Ketiga negara sepakat untuk menerapkan Agreed Export Tonnage Scheme (AETS).
"Berdasarkan skema tersebut, tiga negara akan mengurangi ekspor karet alam sebanyak 615.000 ton selama enam bulan sejak 1 Maret 2016 sampai dengan 31 Agustus 2016," ujar Plt Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemdag) Karyanto Suprih di Jakarta, Kamis (4/4).
Perinciannya, Thailand akan mengurangi ekspor karet alam sebanyak 324.000 ton, Indonesia 238.000 ton, dan Malaysia 52.000 ton. Angka ini ditentukan berdasarkan basis produksi masing-masing negara pada 2015.
Kesepakatan ini merupakan tindak lanjut pertemuan Menteri Perdagangan Indonesia, Menteri Pertanian dan Koperasi Thailand, serta Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia di Jakarta pada 3 Desember 2015 lalu.
Namun Vietnam tidak ikut kesepakatan ini. Karyanto bilang, Vietnam secara tertulis memang sudah bergabung dengan ITRC sebagai strategic partner.
"Komitmennya seperti apa, itu masih dalam perundingan sehingga belum bisa kami sampaikan," ujarnya. Karyanto yakin nilai ekspor karet alam Vietnam lebih kecil dari ketiga negara ITRC sehingga tidak terlalu berpengaruh.
Karyanto melanjutkan, selain mengurangi ekspor, upaya menaikkan harga karet alam juga dilakukan dengan cara meningkatkan konsumsi domestik.
Sayangnya, hingga saat ini rencana penggunaan karet alam untuk aspal dan dock fenders masih sebatas wacana, karena belum ada payung hukumnya berupa instruksi presiden (inpres).
Oleh karena itu, pemerintah berencana menyederhanakan lagi payung hukumnya, tidak dalam bentuk inpres melainkan berupa aturan di kementerian terkait.
Sejauh ini Kemdag sudah melakukan pembicaraan dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perhubungan, serta Kementerian Perindustrian.
Upaya tersebut diharapkan bisa mengerek harga karet alam yang saat ini sudah sampai titik terendah yaitu US$ 1,09 per kilogram (kg). Menurut perhitungan Kemdag, harga karet alam idealnya di atas harga produksi yaitu US$ 2 per kg-US$ 3 per kg.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo mencatat ekspor karet alam Indonesia sampai dengan November 2015 sebanyak 2,4 juta ton. Proyeksinya, ekspor sepanjang 2015 sebanyak 2,6 juta ton.
Moenardji meramalkan ekspor tahun ini bakal berkurang. Selain karena kesepakatan dengan ITRC, produksi juga menyusut karena banyak pohon karet yang ditebang menyusul harga karet yang anjlok. Belum lagi anomali cuaca yang mengancam produksi karet.
Saat ini produksi karet Indonesia masih berorientasi ekspor. Penyerapan dalam negeri hanya oleh industri ban, sebanyak 550.000 ton-580.000 ton per tahun.
Apabila penggunaan karet alam untuk aspal dan dock fenders sudah berjalan, Moenardji optimistis penyerapan bisa bertambah 100.000 ton per bulan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













