kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.818.000   -42.000   -1,47%
  • USD/IDR 17.130   16,00   0,09%
  • IDX 7.500   41,69   0,56%
  • KOMPAS100 1.037   8,08   0,79%
  • LQ45 746   -0,12   -0,02%
  • ISSI 272   3,24   1,21%
  • IDX30 399   -1,25   -0,31%
  • IDXHIDIV20 486   -4,46   -0,91%
  • IDX80 116   0,59   0,51%
  • IDXV30 135   0,10   0,08%
  • IDXQ30 128   -1,20   -0,93%

Tiket Pesawat Mahal, Red Planet (PSKT) Waspadai Penurunan Okupansi Hotel


Senin, 13 April 2026 / 14:09 WIB
Tiket Pesawat Mahal, Red Planet (PSKT) Waspadai Penurunan Okupansi Hotel
ILUSTRASI. Red Planet Hotel - PT Red Planet Tbk (PSKT) (Dok/PSKT)


Reporter: Vina Elvira | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Red Planet Indonesia Tbk (PSKT) menilai kenaikan harga avtur dan fuel surcharge yang mendorong mahalnya tiket pesawat berpotensi menekan tingkat okupansi hotel. Meski demikian, hingga saat ini dampaknya terhadap kinerja perseroan masih relatif terbatas.

Corporate Secretary PSKT Seandy Khusen mengatakan, secara teori kenaikan harga tiket pesawat akan berdampak langsung terhadap penurunan okupansi hotel.

“Walaupun umumnya kenaikan harga avtur dan fuel surcharge berbanding lurus dengan kenaikan harga tiket pesawat sehingga perjalanan bisnis maupun wisatawan akan mengalami penurunan dan berdampak kepada okupansi hotel,” ujarnya kepada KONTAN, di pekan lalu. 

Hingga saat ini, PSKT belum melihat adanya penurunan signifikan pada jumlah wisatawan domestik maupun perubahan perilaku konsumen. Di mana, perilaku pemesanan kamar masih didominasi pola last minute. 

Baca Juga: Isu BBM Naik, Mobil Listrik Bekas Mulai Dilirik Pasar

Di tengah potensi tekanan tersebut, perusahaan melihat adanya peluang dari pergeseran perilaku wisatawan domestik. Kenaikan harga tiket pesawat mendorong wisatawan beralih ke destinasi yang lebih dekat atau dapat dijangkau melalui jalur darat.

Untuk mengantisipasi potensi penurunan okupansi ke depan, PSKT memperkuat fokus pada pasar domestik dengan strategi harga yang kompetitif serta penawaran promo yang menarik.

Di sisi lain, strategi pricing tetap dijalankan secara dinamis mengikuti pergerakan permintaan pasar, tanpa melakukan pemangkasan tarif kamar secara langsung.

“Target pricing kami masih bersifat dynamic rate dengan melihat naik turunnya demand. Dan kami tidak menurunkan dari room rate, tetapi mencoba mengikuti beberapa campaign promosi menarik terhadap segmen Online maupun Offline,” jelasnya.

 

Secara keseluruhan, outlook industri perhotelan pada 2026 masih berada dalam fase wait and see, seiring tekanan terhadap daya beli dan kondisi global.

Namun, Manajemen masih optimistis terkait bisnis di 2026 dan belum melakukan revisi terkait anggaran dan target di 2026. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×