kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.678   92,00   0,52%
  • IDX 6.476   -247,43   -3,68%
  • KOMPAS100 857   -36,08   -4,04%
  • LQ45 637   -21,33   -3,24%
  • ISSI 234   -9,32   -3,83%
  • IDX30 361   -9,86   -2,66%
  • IDXHIDIV20 446   -9,16   -2,01%
  • IDX80 98   -3,65   -3,58%
  • IDXV30 127   -2,78   -2,15%
  • IDXQ30 116   -2,83   -2,38%

Tower masjid pengganti BTS, begini tanggapan TBIG dan TOWR


Senin, 20 Mei 2019 / 16:48 WIB


Reporter: Amalia Fitri | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG, anggota indeks Kompas100 ini,) secara singkat merespon wacana pemanfaatan tower masjid sebagai pengganti Base Transceiver Station (BTS) yang dikemukakan oleh Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), Rudiantara.

Sebagai informasi, pada kesempatan acara "Prisma Fair 19TH" di Jakarta, Sabtu (18/5) lalu, Rudiantara mengatakan pihaknya akan memanfaatkan tower masjid sebagai pengganti BTS.

"Tentu kami mendukung rencana tersebut. Kami pikir pemanfaatan tower masjid sebagai pengganti BTS, tidak menemui kendala teknis," ungkap Direktur Keuangan TBIG, Helmi Yusman kepada Kontan, Senin (20/5).

Dirinya menjelaskan, semua tower masjid punya potensi untuk dimanfaatkan sebagai pengganti BTS, namun hal itu perlu disesuaikan pula dengan kebutuhan operator serta ketinggian tower.

Senada, Wakil Direktur Utama PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR, anggota indeks Kompas100 ini,), Adam Gifari secara singkat turut menyebut pentingnya menyelaraskan kebutuhan operator telekomunikasi dengan kondisi tower yang ada.

"Kami sendiri sebenarnya pernah pakai (tower masjid). Tetapi memang tidak semua bisa sesuai, harus memperhatikan pula ketinggian tower serta peruntukannya," jelas Adam Gifari kepada Kontan, Senin (20/5).

Ia melanjutkan, walau sangat berpeluang untuk diwujudkan, pemanfaatan tower masjid sebagai pengganti BTS juga melibatkan dokumen perijinan. Sementara itu, Adam belum bisa memberikan pernyataan lebih jauh seputar kendala dan resiko yang dihadapi jika wacana dijalankan.

"Kami pernah mengalami beberapa cerita seputar ini, tentu ada perhitungan kendala dan resiko di lapangan. Tetapi data tersebut harus diverifikasi lagi oleh pihak operasional sebagai pihak di lapangan. Jadi kami belum bisa ceritakan banyak," pungkas Adam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×